Daftar Isi
MUDA BELIA— Warganet dan publik lagi ramai banget nih bahas soal SMA Swasta Siger. Soalnya, sekolah ini milik pribadi Eka Afriana dan kawan-kawan, tapi malah dapet “treatment khusus” dari DPRD Kota dan Provinsi Lampung. Padahal, dokumen resmi Kemenkumham nunjukin kalau SMA ini jelas-jelas milik pribadi, bukan aset Pemkot.
Eka Afriana sendiri dikenal publik sebagai saudari kembar Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana. Banyak yang nyebutnya The Killer Policy. Kekayaannya? Ga main-main, LHKPN bilang sekitar 40 miliar rupiah. Dengan segitu banyak harta, publik mulai skeptis nih soal “niat baik” sekolah ini, apalagi sampai pake fasilitas dan dana pemerintah.
Lebih parahnya, laporan media lokal nunjukin SMA Siger kedapatan jual 15 modul pelajaran ke siswa, meski menurut Eva Dwiana, Pemkot harusnya menanggung penuh biaya sekolah. Belum lagi, Plt Kasubag Aset dan Keuangan Disdikbud Bandar Lampung, Satria Utama, belum bayar gaji puluhan guru selama berbulan-bulan. Fix, publik makin banyak yang geram.
Warganet bahkan nanya-nanya: “Apa urgensinya DPRD dukung sekolah ini?” Apalagi pemiliknya udah kaya raya, punya posisi strategis di dinas, dan jelas-jelas punya hubungan keluarga dengan orang nomor satu di Bandar Lampung. Publik khawatir, dukungan ini bikin ketimpangan antara SMA Siger dan sekolah swasta lain yang sama sekali ga dapet bantuan pemerintah, padahal sama-sama pengen maju.
Sejauh ini, DPRD Lampung dan Bandar Lampung jadi sorotan besar. Banyak yang berharap legislatif bakal tunjukkin sikap kritis, transparan, dan adil. Publik pengen banget tahu apakah dukungan mereka ke SMA Siger cuma favoritisme, atau benar-benar buat kepentingan pendidikan.
Kasus SMA Siger ini jadi reminder keras buat semua pihak: sekolah swasta yang dapet fasilitas publik wajib transparan, pertanggungjawaban jelas, dan ga boleh cuma dimanfaatkan pihak tertentu. Sekarang, semua mata tertuju ke DPRD — apakah mereka bakal jalanin fungsi kontrolnya atau tetep diem aja?***













