Daftar Isi
MUDA BELIA- Provinsi Lampung lagi-lagi bikin gebrakan yang bikin seluruh Indonesia nengok. Tahun depan, Lampung bakal nge-launching program Sekolah Terbuka—sebuah konsep pendidikan super fleksibel yang digadang-gadang jadi role model nasional. Program ini digarap serius banget buat nyelesaiin PR besar dunia pendidikan: angka putus sekolah SMA yang masih ngeri banget.
Data resmi tahun 2024 menunjukin Angka Putus Sekolah (APS) jenjang SMA di Lampung tembus 72,35%! Bayangin, itu jauh lebih tinggi dari SD dan SMP. Padahal makin tinggi jenjang, seharusnya makin dikit yang berhenti sekolah. Tapi realitanya kebalik. Angka Partisipasi Murni (APM) SMA juga masih kalah jauh dari jenjang SD dan SMP.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung, Thomas, blak-blakan: cuma 64% lulusan SMP yang lanjut ke SMA. Sisanya? Banyak yang harus kerja bantu keluarga atau keburu nyaman dapet duit sendiri. “Ada faktor ekonomi, ada juga kultur lingkungan. Mereka ngerasa udah bisa cari duit, udah nyaman, dan akhirnya enggak lanjutin sekolah,” katanya.
Dari sinilah ide SMA Terbuka muncul, konsep sekolah yang nggak kaku dan bisa menyesuaikan vibes serta kondisi siswa. Sistem belajarnya bisa daring, bisa luring, bisa nyicil waktu, dan tetap terhubung dengan sekolah reguler. Nggak cuma itu, siswa SMA Terbuka juga tetap dapet alokasi dana BOS seperti sekolah lainnya. Jadi nggak ada alasan “nggak punya biaya” lagi.
“Konsepnya adaptif. Kita sesuaikan sama kondisi siswa. Di beberapa wilayah nanti SMA Terbuka ini bakal ‘nginduk’ ke sekolah reguler,” jelas Thomas.
Program ini bakal start di sejumlah daerah, terutama wilayah Mesuji dan kawasan 3T yang akses pendidikannya masih sering jadi tantangan. Inspirasi program ini muncul ketika Thomas menghadiri kegiatan Universitas Terbuka. Dari situ ia mikir, “Kalau kampus bisa fleksibel, kenapa SMA nggak?”
Regulasi sedang dirampungkan, dan targetnya tahun depan program ini udah bisa langsung jalan. Yang bikin makin keren, program ini juga terbuka bagi warga dewasa yang udah lama putus sekolah. Jadi bukan cuma buat anak muda, tapi juga buat bapak-ibu yang pengen gabung sekolah lagi. “Kita bakal woro-woro, bahkan jemput bola buat ngajak mereka kembali sekolah,” tambahnya.
Selain pelajaran formal, siswa juga bakal dapat pembekalan vokasi alias skill tambahan biar mereka siap kerja sekaligus tetap punya ijazah formal. Kalau nggak cocok jalur SMA Terbuka? Bisa pilih Paket C. Fleksibel banget pokoknya.
“Ijazahnya tetap formal, kurikulum jelas, jam belajar diatur. Kalau ini jalan mulus, Lampung bisa jadi role model nasional,” tegas Thomas optimistis.
Nggak cuma itu, Disdikbud Lampung juga lagi nyiapin Peta Jalan Pendidikan buat ningkatin berbagai indikator kayak Rata-Rata Lama Sekolah, Harapan Lama Sekolah hingga APM dan APK SMA. Try-out massal udah dilakukan dua kali, lengkap dengan passion rate, kelas prioritas, kelas treatment sampai kerja bareng bimbel biar anak-anak makin siap masuk perguruan tinggi.
Disdikbud juga menggandeng kampus buat riset minat siswa, mulai dari yang mau jadi dokter, pengacara, sampai jurusan lain. Hasilnya dipakai buat nambah pembelajaran tambahan agar siswa bisa tembus UTBK. “Kalau belum mencapai standar, kita tambah pembelajarannya. Biar mereka bisa bersaing dan keterima,” tutup Thomas.
Dengan berbagai terobosan yang makin relate dengan kebutuhan zaman, Lampung terlihat serius banget buat nge-push kualitas pendidikan. Kalau program ini berhasil, bukan nggak mungkin, Lampung bakal jadi daerah yang ditiru seluruh Indonesia.***












