Daftar Isi
MUDA BELIA- Bandar Lampung lagi-lagi menghadapi cerita lama yang terus diputar ulang setiap musim hujan: banjir datang, warga panik, rumah terendam, lalu muncul bantuan darurat dan janji perbaikan. Setelah itu? Semua kembali seperti biasa sampai hujan berikutnya datang.
Kondisi ini dirasakan warga RT 07 Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Enggal. Setiap hujan deras turun, rasa waswas langsung muncul. Bukan karena mereka tidak siap menghadapi cuaca, tetapi karena mereka sudah terlalu sering mengalami kejadian yang sama tanpa solusi permanen.
Salah seorang warga mengaku mulai lelah dengan situasi yang berulang. Menurutnya, setiap banjir datang, kerugian yang dialami warga jauh lebih besar dibanding bantuan yang diterima.
“Kalau banjir datang, kami cuma disuguhi bantuan yang tidak sebanding dengan kerugian yang kami alami. Rasanya seperti dianak-tirikan,” ujarnya.
Yang membuat warga semakin kecewa adalah munculnya kesan perlakuan yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Saat banjir besar melanda kawasan Tanjung Senang beberapa waktu lalu, warga disebut menerima bantuan hingga Rp1 juta per keluarga. Sementara di Enggal, yang menurut warga mengalami kondisi serupa, bantuan tersebut tidak kunjung datang.
Baru setelah kondisi mereka ramai diperbincangkan dan viral di media sosial, bantuan sebesar Rp500 ribu diberikan.
Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan yang ramai dibahas warga:
Apakah bantuan diberikan berdasarkan tingkat kerusakan yang dialami masyarakat atau berdasarkan seberapa viral sebuah musibah?
Di era media sosial seperti sekarang, pertanyaan itu tentu sulit dihindari.
Masalahnya, warga sebenarnya tidak sedang mengejar bantuan tunai. Yang mereka inginkan jauh lebih sederhana: banjir tidak datang lagi setiap tahun.
Masyarakat berharap pemerintah fokus pada solusi jangka panjang seperti normalisasi sungai, pembangunan drainase yang memadai, pelebaran saluran air, hingga perencanaan tata kota yang lebih baik.
Karena ketika air mulai masuk ke rumah, bantuan apa pun tidak akan mampu menggantikan rasa aman yang hilang.
Sorotan terhadap persoalan ini semakin tajam setelah politikus senior Lampung, Ferdi Gunsan, kembali mengingatkan publik tentang janji politik yang pernah disampaikan Eva Dwiana saat Pilkada 2019.
Kala itu, Eva Dwiana menyampaikan komitmen untuk mengatasi banjir melalui berbagai langkah seperti pembangunan talud dan beronjong.
Namun setelah bertahun-tahun berlalu, persoalan banjir masih menjadi keluhan utama warga di berbagai wilayah Bandar Lampung.
Ferdi bahkan melontarkan kritik satir ketika mendengar pernyataan yang meminta berbagai pihak memberikan solusi atas persoalan banjir.
Menurutnya, masyarakat memilih pemimpin justru karena berharap mendapatkan solusi dari pemerintah.
Di sisi lain, publik juga mulai mempertanyakan prioritas anggaran daerah.
Ketika persoalan banjir terus berulang, sebagian warga bertanya mengapa dana besar dapat dialokasikan untuk berbagai program lain sementara persoalan dasar yang menyangkut keselamatan masyarakat belum terselesaikan secara maksimal.
Bagi generasi muda, isu ini sebenarnya bukan sekadar soal banjir.
Ini soal akuntabilitas.
Tentang bagaimana janji kampanye diterjemahkan menjadi kebijakan nyata.
Tentang bagaimana anggaran publik digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Dan tentang bagaimana seorang pemimpin dinilai bukan dari banyaknya slogan yang disampaikan, tetapi dari masalah yang berhasil diselesaikan.
Karena pada akhirnya, warga Enggal tidak sedang meminta keistimewaan.
Mereka hanya ingin hidup tanpa rasa cemas setiap kali awan gelap mulai menggantung di langit Bandar Lampung.
Dan setelah bertahun-tahun menunggu, pertanyaan yang tersisa kini semakin sederhana:
Apakah solusi banjir memang belum ditemukan, atau memang belum menjadi prioritas utama?***







