Daftar Isi
MUDA BELIA- Kalau selama ini banyak orang menganggap puisi hanya berisi soal cinta, patah hati, atau kerinduan yang puitis, karya-karya Muhammad Alfariezie justru hadir dengan jalur yang berbeda. Penyair muda asal Lampung ini membawa puisi ke ruang publik sebagai alat kritik sosial yang tajam, satir, sekaligus dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menariknya, kritik yang dibangun Alfariezie tidak menggunakan bahasa yang rumit atau simbol-simbol yang sulit dipahami. Ia memilih benda-benda yang akrab dengan masyarakat seperti banjir, sampah, sungai, semangka, telur, daun kelor, hingga taman kota.
Karena itulah puisinya terasa seperti membaca unggahan media sosial, laporan warga, sekaligus cerita rakyat dalam satu waktu.
Dalam puisi Wali Kota Ngemil Cahaya, misalnya, pembaca diajak masuk ke dunia yang absurd. Ada pemimpin yang mengajak warganya “mandi dan ngemil cahaya”. Secara logika tentu mustahil, tetapi justru di situlah letak kritiknya. Alfariezie memperlihatkan bagaimana janji atau gagasan yang terdengar indah kadang terasa jauh dari kenyataan yang dihadapi masyarakat.
Hal serupa muncul dalam Kita Ditempatkan Wali Kota di Selembar Daun Kelor. Bayangkan seseorang diminta hidup di atas daun kelor sambil menikmati sungai yang penuh sampah. Gambaran yang aneh, tetapi sekaligus menyentil realitas tentang bagaimana masyarakat sering dipaksa menerima kondisi yang sebenarnya tidak layak.
Yang membuat karya-karyanya berbeda adalah penggunaan humor dan ironi. Pembaca bisa tersenyum ketika membaca citraan yang ganjil, tetapi setelah dipikirkan lebih dalam justru muncul pertanyaan serius tentang kondisi sosial dan kebijakan publik.
Inilah yang bisa disebut sebagai Gaya Kritik Lampung.
Gaya ini lahir dari peristiwa-peristiwa lokal yang nyata, kemudian diolah menjadi satire puitik yang mudah dipahami masyarakat. Kritik tidak hadir lewat kemarahan yang meledak-ledak, melainkan melalui kemustahilan yang membuat pembaca berpikir, “Kok ini mirip dengan kenyataan yang sedang terjadi?”
Di era Gen Z dan milenial, pendekatan seperti ini terasa relevan. Generasi sekarang lebih dekat dengan meme, satire, dan ironi dibanding pidato panjang yang penuh istilah formal. Alfariezie seolah memindahkan budaya kritik digital itu ke dalam puisi.
Kalau di media sosial orang membuat thread panjang untuk membongkar persoalan publik, maka Alfariezie melakukannya lewat bait-bait puisi.
Jika biasanya sastra dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari, karya-karya ini justru membuktikan hal sebaliknya. Puisi bisa menjadi ruang diskusi sosial. Puisi bisa menjadi kritik. Bahkan puisi bisa menjadi arsip zaman yang merekam keresahan masyarakat.
Melalui karya-karyanya, Muhammad Alfariezie menghadirkan wajah baru sastra daerah: lebih membumi, lebih komunikatif, dan berani menyentuh isu-isu yang sering menjadi perbincangan publik.
Pada akhirnya, Gaya Kritik Lampung bukan hanya soal estetika bahasa. Ia adalah cara baru melihat realitas—dengan senyum satir, ironi yang tajam, dan keberanian untuk mempertanyakan apa yang dianggap biasa oleh banyak orang.







