Daftar Isi
MUDA BELIA- Ada kecenderungan menarik dalam puisi-puisi Muhammad Alfariezie, penyair kelahiran Bandar Lampung.
Ia tidak membangun puisi dari jarak yang steril terhadap realitas.
Sebaliknya, ia membawa politik, keluarga, tokoh populer, kemiskinan, bencana, jalan, pemerintah, bahkan kucing kampung ke dalam ruang puitik.
Sejumlah uisi—“Raffi Ahmad Menanam Pohon Bulan”, “Keluarga Asoka”, “Way Kanan Menjelang 17 Agustus”, “Kalian Kucing Kampung”, dan “Sabar Menagih Pasrah”—memperlihatkan satu kecenderungan yang semakin jelas.
Alfariezie sedang mengembangkan puisi realitas yang berada di persimpangan antara lirik, jurnalisme, satire politik, dan kritik sosial.
Ia tidak selalu mengejar keindahan melalui diksi yang rumit.
Bahkan, beberapa puisinya sengaja mempertahankan bahasa yang terdengar seperti percakapan, berita, atau pernyataan masyarakat.
Namun justru di situlah persoalan estetiknya menjadi menarik.
Puisi Alfariezie seakan bertanya: bisakah berita menjadi puisi? Bisakah fakta politik menjadi metafora? Bisakah penderitaan rakyat menjadi bahasa liris?
Jawabannya terlihat dalam karya-karya ini:
Raffi Ahmad Menanam Pohon Bulan
Kelam masa silam tak boleh
menghalang karena di depan
banyak ladang kosong dan
lapang yang sayang tanpa
pendatang
Raffi Ahmad, misal. Terjegal
batang berduri hingga bukan
saja terjungkal tapi luka
Namun hanya sebentar terkapar
lalu lekas kembali menanam
dan menyiram
Sekarang tumbuh pohon bulan
yang manisnya menyegarkan
orang-orang
2026
Keluarga Asoka
Di luas dan panjang tanah
rumpun Asoka, cacing tanah
bergeliat
Menjijikan kata anak tapi istri
bilang obat tipes
Sementara bapak diam
memandang saya yang
sedang merapikan ranting
dan daun menjuntai
Seakan-akan, tatapannya
berkata
Pilihan di tangan lelaki
yang tak lagi membujang
2026
Way Kanan Menjelang 17 Agustus
Way Kanan, kabupaten kopi
hingga Sawit serta Minyak
Lada yang juga Padi Sawahnya
terhampar bagi babi, sapi,
domba hingga telur dan
ayam juga itik
Belum lagi ketika anak kecil
berbicara ikan air tawar
Bagaimana kolaborasi eksekutor
dan legislatornya?
Di sana tidak sebergejolak Metro
dengan Bambang Iman Santosonya
dan tidak semiskin Bandar
Lampung tergenggam Herman
hingga istrinya
Tapi tak perlu kalian bayangkan
makan bangik dengan sumber
daya tadi
Tak perlu kalian jadwal kapan
berumah yang 20 tahun
tergenggam Golkar, dan
Demokrat itu
Hapus rencana kalian bervilla
atau berusaha di daerah Ketua
DPRD dan Bupatinya sanak
keluarga Raden Kalbadi itu,
kecuali
Bersedia menjamin jalan bagus
hingga tidak viral lagi ibu
lahiran di akses beruntus
beberapa bulan menjelang 17
Agustus
2026
Kalian Kucing Kampung
Enggak semua yang dewasa
mampu makan dan mandi
sendiri tapi pemerintah tetap
meminta mandiri walau ada
yang sudah hampir mati
Apa mereka yang selalu
mengemis suara demokrasi
menganggap kamu dan dia
serta kalian kucing kampung
yang pincang mengorek sampah
untuk makan?
Meski lompat tertatih di depan
makan mereka, di depan santai
mereka tapi tetap enggan peduli
Mereka biarkan kasihan mengais
sisa ayam dan ikan demi
bertahan di negeri yang perih
2026
Sabar Menagih Pasrah
Sabar. Setelah mengering, banyak
sungai yang tinggal batu berlumut
dengan rumpun rumputnya
Usai hujan deras berjam-jam, banyak
orang menangis menagih janji
wali kota karena kehilangan harta
benda dan keluarga
Banyak yang gila karena kehilangan
setelah pasrah mencinta
Sabar, mungkin kita kan bahagia
di Surga dan mereka bersimbah
darah dalam neraka walau ntah
waktunya sangkala menurunkan
mataharinya
2026
Puisi yang Menolak Bersembunyi dari Zaman
Dalam tradisi puisi modern, penyair tidak harus mengasingkan diri dari dunia.
Puisi dapat menjadi cara untuk merekam zaman.
Alfariezie mengambil posisi tersebut.
Ia memasukkan nama Raffi Ahmad, Way Kanan, Metro, Bandar Lampung, wali kota, legislatif, pemerintah, hingga problem masyarakat ke dalam teks.
Nama-nama tersebut bukan sekadar ornamen. Ia menggunakannya sebagai penanda realitas.
Dengan demikian, puisinya memiliki karakter dokumenter.
Tetapi Alfariezie tidak berhenti pada dokumentasi.
Ia mengubah fakta menjadi simbol sehingga membuat karya-karyanya menarik untuk dibaca melalui perspektif ekokritik, sosiologi sastra, politik bahasa, dan estetika pascarealistik.
1. “Raffi Ahmad Menanam Pohon Bulan”: Metafora Pemulihan
Puisi pertama merupakan karya yang paling ringan secara tematik, tetapi menyimpan konstruksi simbolik yang cukup kuat.
“Kelam masa silam tak boleh / menghalang karena di depan / banyak ladang kosong dan / lapang…”
“Ladang” menjadi ruang kemungkinan. Ia adalah masa depan yang belum ditanami.
Sementara “kelam masa silam” menjadi sesuatu yang harus dilewati.
Raffi Ahmad kemudian ditempatkan sebagai contoh manusia yang pernah “terjegal”, “terjungkal”, dan “luka”.
Namun yang menarik adalah respons terhadap luka tersebut:
“Namun hanya sebentar terkapar / lalu lekas kembali menanam / dan menyiram”
Kata menanam dan menyiram merupakan verba yang sangat sederhana. Tetapi secara simbolik keduanya berbicara tentang kerja panjang untuk membangun kembali kehidupan.
Kemudian lahirlah metafora paling unik:
“Sekarang tumbuh pohon bulan”
Secara logika realitas, pohon bulan tentu mustahil. Tetapi puisi tidak hidup dari logika literal.
“Pohon bulan” adalah bentuk metafora surealis: sesuatu yang tidak mungkin tumbuh di dunia nyata justru menjadi mungkin di dalam bahasa.
Bulan yang biasanya menjadi objek pandangan manusia dari kejauhan dipindahkan ke tanah sebagai sesuatu yang dapat ditanam.
Di sinilah Alfariezie memperlihatkan harapan dapat ditanam sebagaimana manusia menanam pohon.
2. “Keluarga Asoka”: Politik Kecil dalam Rumah
Jika puisi pertama bergerak dari tokoh publik menuju metafora harapan, “Keluarga Asoka” bergerak sebaliknya: dari sesuatu yang sangat kecil menuju persoalan eksistensial.
Cacing tanah muncul sebagai benda remeh. Anak menganggapnya menjijikkan. Istri mengatakan cacing tersebut bisa menjadi obat tipes.
Bapak diam. Saya merapikan ranting.
Adegan ini tampaknya sederhana. Tetapi justru kesederhanaan tersebut menjadi kekuatan.
Ada empat kesadaran dalam satu halaman rumah.
Anak melihat dengan rasa jijik.
Istri melihat melalui fungsi.
Bapak melihat melalui pengalaman.
“Saya” melakukan pekerjaan.
Dengan demikian, benda yang sama menghasilkan makna yang berbeda.
Puncaknya:
“Pilihan di tangan lelaki / yang tak lagi membujang”
Kalimat ini menggeser puisi dari naturalisme keluarga menuju eksistensialisme domestik.
Menjadi lelaki yang telah menikah berarti memasuki dunia pilihan yang tidak lagi sepenuhnya personal.
Kebebasan berubah menjadi tanggung jawab.
Dalam pembacaan yang lebih modern, “lelaki yang tak lagi membujang” dapat dibaca sebagai manusia yang telah memasuki fase kehidupan ketika keputusan personal selalu memiliki konsekuensi sosial.
Keluarga menjadi negara kecil.
Ada pilihan.
Ada tanggung jawab.
Ada tatapan.
Dan ada keputusan yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata.
3. “Way Kanan Menjelang 17 Agustus”: Puisi sebagai Editorial
Di antara karya-karya tersebut, “Way Kanan Menjelang 17 Agustus” merupakan teks yang paling berani secara politik.
Puisi ini hampir seperti editorial yang dipadatkan menjadi puisi.
Ia menyebut sumber daya:
“kopi”
“Sawit”
“Minyak”
“Lada”
“Padi Sawah”
hingga ternak dan ikan.
Kekayaan alam menjadi daftar panjang.
Tetapi setelah inventarisasi tersebut, penyair justru bertanya:
“Bagaimana kolaborasi eksekutor / dan legislatornya?”
Di sinilah terjadi benturan antara kekayaan material dan kualitas kekuasaan.
Sebuah daerah dapat memiliki sumber daya yang melimpah, tetapi pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang menikmati hasilnya?
Dan untuk apa kekayaan tersebut digunakan?
Puisi kemudian memasuki wilayah politik lokal dengan menyebut berbagai figur dan kelompok politik.
Secara estetik, strategi ini bisa disebut sebagai deiksis politik: puisi menunjuk langsung kepada ruang, tokoh, institusi, dan peristiwa tertentu.
Keuntungannya, puisi memperoleh daya aktual.
Kelemahannya, puisi juga berisiko kehilangan umur panjang apabila konteks politiknya kelak tidak lagi dikenali pembaca.
Inilah salah satu kritik penting terhadap puisi Alfariezie: semakin aktual sebuah puisi, semakin besar pula risiko kedaluwarsa referensialnya.
Namun ada bagian yang menyelamatkan teks dari sekadar pamflet politik:
“Bersedia menjamin jalan bagus / hingga tidak viral lagi ibu / lahiran di akses beruntus”
Di sini persoalan politik kembali kepada tubuh manusia.
Bukan lagi DPRD.
Bukan lagi Bupati.
Bukan lagi partai.
Tetapi seorang ibu yang melahirkan di jalan yang buruk.
Politik akhirnya kembali ke manusia.
Dan menurut saya, di situlah puisi ini menemukan pusat moralnya.
4. “Kalian Kucing Kampung”: Metafora Kelas yang Terpinggirkan
Puisi “Kalian Kucing Kampung” memperlihatkan kecenderungan Alfariezie menggunakan binatang sebagai subjek sosial.
Kucing pincang yang mengorek sampah tidak hanya menjadi kucing.
Ia berubah menjadi metafora manusia yang hidup dalam kekurangan.
Pertanyaan:
“Apa mereka yang selalu / mengemis suara demokrasi / menganggap kamu dan dia / serta kalian kucing kampung…”
merupakan kritik terhadap hubungan antara rakyat dan kekuasaan.
Kata “demokrasi” ditempatkan berhadapan dengan “sampah”.
Ini adalah benturan simbolik yang menarik.
Demokrasi seharusnya menjunjung manusia.
Namun dalam puisi ini, manusia justru disandingkan dengan kucing yang harus mengais makanan dari sisa.
Di sini terdapat satire demokrasi. Pemilu membutuhkan rakyat. Politik membutuhkan suara rakyat.
Tetapi setelah suara diberikan, rakyat yang lemah dapat kembali menjadi tidak terlihat.
Karena itu, “kucing kampung” menjadi metafora invisibilitas sosial.
Ia ada.
Ia lapar.
Ia bergerak.
Ia menderita.
Tetapi tidak dianggap penting.
5. “Sabar Menagih Pasrah”: Ketika Bencana Menjadi Ingatan Kolektif
Puisi terakhir memiliki nada yang jauh lebih gelap.
“Setelah mengering, banyak / sungai yang tinggal batu berlumut…”
Sungai yang mengering menjadi metafora kehancuran. Namun kemudian datang hujan deras. Dan bersama hujan, muncul kehilangan:
“banyak orang menangis menagih janji / wali kota karena kehilangan harta / benda dan keluarga”
Puisi ini mempertemukan ekologi dan politik.
Bencana bukan semata-mata fenomena alam. Ia juga menghadirkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah.
Kata “menagih” menjadi penting. Masyarakat bukan hanya menangis. Mereka menagih.
Artinya ada kontrak sosial yang dirasakan telah gagal dipenuhi.
Kemudian puisi bergerak menuju wilayah religius:
“mungkin kita kan bahagia / di Surga dan mereka bersimbah / darah dalam neraka”
Bagian ini membuat puisi menjadi lebih problematis sekaligus menarik.
Penyair tidak lagi hanya berbicara tentang bencana dan pemerintahan, tetapi mulai membangun oposisi moral antara korban, harapan, keadilan, surga, dan neraka.
Secara kritik sastra, ini dapat dibaca sebagai eskalasi emosional.
Dunia yang tidak memberikan keadilan di bumi kemudian dibayangkan memiliki kemungkinan mendapatkan keadilan secara metafisik.
6. Ciri Khas Alfariezie: Jurnalisme yang Menjadi Puisi
Jika karya-karya ini dibaca bersama, terdapat sebuah pola yang sangat jelas.
Alfariezie memiliki kesadaran jurnalistik yang kuat di dalam struktur kepenyairannya.
Ia tidak takut menggunakan:
• nama tokoh;
• nama daerah;
• lembaga politik;
• persoalan publik;
• bencana;
• jalan;
• kemiskinan;
• peristiwa aktual.
Namun ketika semuanya masuk ke dalam puisi, fakta tersebut mengalami transformasi.
Raffi Ahmad → simbol ketahanan.
Cacing → simbol pilihan hidup.
Way Kanan → simbol paradoks kekayaan dan kekuasaan.
Kucing kampung → simbol rakyat terpinggirkan.
Sungai → simbol kehilangan dan ingatan.
Inilah yang dapat disebut sebagai puisi pascarealitas: realitas tidak ditolak, tetapi diolah kembali melalui metafora, ironi dan subjektivitas penyair.
7. Kekuatan dan Kelemahan Estetik
Secara kritik yang lebih objektif, puisi-puisi Alfariezie memiliki beberapa kekuatan.
Pertama, keberanian tematik. Ia tidak menghindari persoalan aktual.
Kedua, kedekatan dengan bahasa masyarakat. Bahasanya tidak dibuat terlalu berjarak.
Ketiga, kemampuan mengubah objek sederhana menjadi simbol. Cacing dan kucing, misalnya, memperoleh fungsi yang jauh lebih besar daripada keberadaan literalnya.
Keempat, keberanian memasukkan politik ke dalam puisi.
Namun terdapat pula beberapa kelemahan yang justru penting bagi perkembangan kepenyairannya.
Beberapa bagian terasa terlalu dekat dengan bahasa berita atau opini sehingga tegangan puitiknya menurun.
Pada “Way Kanan Menjelang 17 Agustus”, misalnya, banyak nama dan referensi politik membuat pembaca harus memahami konteks lokal terlebih dahulu.
Risikonya adalah puisi menjadi terlalu bergantung pada berita.
Karena itu, tantangan Alfariezie ke depan adalah bagaimana mempertahankan keberanian politik tanpa membuat puisi kehilangan ambiguitas artistiknya.
Puisi yang kuat bukan hanya mengatakan siapa yang salah.
Puisi yang kuat membuat pembaca menemukan kesalahan itu sendiri.
8. Alfariezie dan Arah Puisi Kontemporer Indonesia
Dalam perkembangan sastra kontemporer, batas antara puisi, jurnalistik, dokumentasi sosial dan kritik politik semakin cair.
Dalam konteks tersebut, Alfariezie memiliki ruang yang menarik.
Ia dapat disebut sebagai penyair yang membawa denyut ruang publik ke dalam ruang liris.
Puisinya tidak selalu meminta pembaca untuk melarikan diri dari kenyataan.
Sebaliknya, pembaca justru dipaksa kembali melihat kenyataan.
Melihat jalan.
Melihat orang miskin.
Melihat keluarga.
Melihat pemerintah.
Melihat bencana.
Melihat binatang yang lapar.
Dan akhirnya melihat diri sendiri.
Di sinilah nilai penting puisi-puisi tersebut.
Puisi sebagai Kesaksian Zaman
Muhammad Alfariezie tampaknya sedang membangun satu wilayah kepenyairan yang khas: puisi realitas dengan naluri jurnalistik dan keberanian kritik sosial.
Ia tidak menanam puisinya di taman yang steril.
Ia menanamnya di jalan. Di halaman rumah. Di kabupaten. Di ruang politik. Di tengah bencana.
Bahkan di tempat sampah yang menjadi sumber makanan kucing kampung.
Dan mungkin karena itu, metafora paling tepat untuk membaca kepenyairan Alfariezie justru terdapat dalam puisinya sendiri:
“Sekarang tumbuh pohon bulan / yang manisnya menyegarkan / orang-orang.”
Penyair tidak selalu harus menciptakan dunia baru.
Kadang tugasnya adalah menanam sesuatu yang mustahil tumbuh di dunia nyata—harapan, kritik, ingatan, dan keberanian—kemudian membiarkan pembaca memetik maknanya.
Jika kecenderungan ini terus dikembangkan dengan disiplin metafora, pengendalian diksi, dan keberanian meninggalkan bahasa yang terlalu jurnalistik ketika diperlukan, Alfariezie berpotensi membentuk identitas puitik yang kuat: seorang penyair yang menjadikan realitas sosial bukan sekadar bahan puisi, melainkan medan pertarungan antara bahasa, kekuasaan, dan kemanusiaan.***







