Daftar Isi
MUDA BELIA – Suasana tidak biasa terlihat di SD Negeri 3 Rejomulyo, Jati Agung, Lampung Selatan, pada Sabtu, 22 November 2025, sekitar pukul 11.30 WIB. Sekolah tampak sepi, halaman kosong tanpa aktivitas, dan yang paling mencolok: sebagian pagar sekolah sepanjang 3–5 meter terlihat rubuh tanpa penanganan.
Di tengah kesunyian itu, hanya seorang penjaga sekolah yang berada di ruang guru. Ketika ditanya soal aktivitas sekolah, ia menjawab singkat, “Libur.”
Jawaban yang memunculkan tanda tanya besar, mengingat sebagian besar sekolah di Kecamatan Jati Agung tetap beroperasi pada hari Sabtu.
Di dekat lokasi, SMP Negeri 2 terlihat ramai dengan kegiatan Pramuka, sementara sekolah dasar lain juga menjalankan aktivitas belajar seperti biasa. Tidak ada kalender pendidikan yang menyebut Sabtu sebagai hari libur, apalagi hari besar atau peringatan tertentu.
Kondisi SDN 3 Rejomulyo yang lengang semakin menyulitkan upaya konfirmasi terkait rubuhnya pagar sekolah. Tidak ada guru atau pihak manajemen yang dapat dimintai keterangan, termasuk soal kemungkinan adanya dana perbaikan, mekanisme penanganan aset negara yang rusak, atau apakah sekolah tersebut menerima alokasi dana revitalisasi.
Beberapa kepala sekolah dasar yang mengetahui kondisi SDN 3 Rejomulyo menyebut bahwa penanggung jawab sekolah adalah seorang kepala sekolah bernama Sigit. Mereka juga menyatakan bahwa jumlah siswa di sekolah itu memang sangat sedikit.
“Paling-paling enggak sampai seratus murid. Ya kalau libur, wajarlah, sekolah di tengah perkebunan begitu,” ujar salah satu kepala sekolah, meski ia mengakui bahwa alasan libur tersebut tidak berdasarkan aturan teknis pendidikan.
Saat ditanya lebih jauh soal alasan libur di hari Sabtu, ia hanya menambahkan, “Ya libur mungkin karena sekolah itu kan di tengah luasnya perkebunan.”
SDN 3 Rejomulyo memang berada di dalam kawasan Trikora PT Perkebunan Negara, sehingga lokasinya relatif terpencil. Namun publik tetap mempertanyakan profesionalisme pengelolaan sekolah, terutama ketika keputusan meliburkan siswa tidak tercantum dalam kalender pendidikan dan tidak disertai penjelasan resmi.
Keadaan ini semakin krusial karena pagar sekolah yang rubuh berpotensi membahayakan keamanan siswa dan aset negara. Ketiadaan pihak sekolah pada hari kalender membuat proses penelusuran informasi dan upaya klarifikasi menjadi terhambat.
Hingga artikel ini dipublikasikan, upaya menghubungi pihak sekolah dan kepala sekolah masih terus dilakukan. Publik berharap ada penjelasan resmi mengenai alasan libur di hari Sabtu serta tindakan terkait perbaikan pagar yang rusak.***












