Daftar Isi
MUDA BELIA- Guys, ada isu panas nih dari Bandar Lampung! Indikasi penyalahgunaan anggaran APBD buat SMA Swasta Siger 1 dan 2 lagi jadi sorotan. Tapi catet dulu, DPRD Kota Bandar Lampung nggak nge-approve anggarannya. Jadi ini masih sebatas “what if” alias kemungkinan kalau anggaran itu beneran cair.
Cerita lengkapnya, Disdikbud sempet ngajukan anggaran Rp1,35 miliar buat sekolah swasta ini di RAPBD 2026. Buat ukuran sekolah yang muridnya belum sampai 100 orang per September 2025, jumlah ini gila banget. Terlebih lagi, SMA Siger nggak butuh banyak biaya operasional, soalnya pakai gedung milik pemerintah.
Sekolah ini dimiliki oleh Eka Afriana, Plt Kadisdikbud Kota Bandar Lampung, yang juga saudari kembar Wali Kota Eva Dwiana. Nah, di sinilah masalahnya, konflik kepentingan jadi sorotan. Bayangin, anggaran sebesar itu kalau dibagi ke tiap siswa, satu orang bisa dapet Rp13,5 juta, hampir cukup buat beli motor baru per tahun atau per semester.
Tapi pertanyaannya: apakah dana itu bakal benar-benar buat siswa atau dipakai buat operasional sekolah? Publik wajib tahu, transparansi anggaran harus dijaga biar nggak ada penyalahgunaan. Apalagi sekolah ini sarat konflik kepentingan karena keterlibatan keluarga pejabat.
Ketua yayasan, Khaidarmansyah, malah lempar tanggung jawab ke Disdikbud Kota Bandar Lampung. Plt Kasubag Aset dan Keuangan Disdikbud yang juga Sekretaris yayasan? Gak ada respon sama sekali pas dimintai klarifikasi. Jadi wajar masyarakat skeptis soal alokasi dana ini.
Yang makin bikin heboh, SMA Siger masih tetap jalan meski tiga pejabat penting Lampung udah bilang ilegal dan sekolah ini lagi jadi objek penyelidikan Ditreskrimsus Polda Lampung. Jadi, guys, ini bukan cuma drama sekolah, tapi soal uang rakyat, transparansi, dan akuntabilitas yang harus diperhatikan banget.
Kalau anggaran ini beneran cair, bukan nggak mungkin siswa bisa beli motor sendiri, tapi publik bakal kehilangan kepercayaan kalau dana pendidikan nggak dikelola dengan baik. Intinya, SMA Siger jadi contoh penting buat kita semua soal transparansi anggaran pendidikan di level lokal.***












