Daftar Isi
MUDA BELIA- Suasana politik di Lampung lagi panas banget, guys! Bukan soal janji kampanye yang belum ditepati, tapi soal janji yang sekarang ditagih di ruang pemeriksaan. Beberapa bulan terakhir, Kejaksaan lagi sibuk banget “bongkar-bongkar” lembar masa lalu para kepala daerah. Dan hasilnya? Bikin heboh satu provinsi!
Kelihatannya sih bukan kebetulan. Ini udah kayak *season baru* dari drama politik Lampung. Dari utara sampai selatan, banyak banget pejabat yang kena giliran dipanggil. Mulai dari mantan bupati yang ngubah kawasan hutan jadi lahan pribadi, sampai proyek air bersih yang diduga penuh “bocor-bocor anggaran”. Bahkan ada juga pembangunan yang cuma berhenti di gerbang rumah dinas—literally cuma gerbang doang!
Dan yang paling mencolok, mantan gubernur juga nggak lolos dari radar. Dipanggil, diperiksa, dan asetnya dihitung satu per satu gara-gara duit investasi migas BUMD. Pokoknya, dari pejabat bawah sampai atas, kayaknya lagi “disorot laser” sama hukum.
Tapi tunggu dulu, sorotan sekarang mulai geser ke pusat provinsi—Kota Bandar Lampung. Ibu Kota ini kayaknya lagi berusaha banget tampil kalem, tapi di balik layar, suasananya panas banget!
Pertama, APBD Kota tahun 2023 yang katanya udah dapet opini WTP alias “bersih tanpa catatan”, malah dilaporin ke Kejaksaan Agung. Pejabat-pejabat pentingnya sampai harus bolak-balik Jakarta buat klarifikasi. Capek banget pasti!
Kedua, di tengah tekanan ekonomi dan utang yang lagi numpuk, Pemkot justru dengan “tangan terbuka” ngasih dana hibah puluhan miliar buat bangun gedung lembaga penegak hukum. Warga pun langsung curiga—emang niat bantu, atau ada misi tersembunyi di balik kebaikan itu?
Buat para pengamat politik, langkah ini udah kayak “sinyal SOS” yang dibungkus elegan. Di saat semua mantan kepala daerah lagi kena semprot hukum, sikap dermawan kayak gini bisa jadi strategi *save yourself* alias jaga-jaga biar nggak kena badai yang sama. Tapi pertanyaannya: emang bisa beli ketenangan dengan dana puluhan miliar di tengah musim “berburu pejabat” kayak gini?
Fenomena ini ngasih pesan jelas banget buat semua penguasa daerah di Lampung: kekuasaan tuh kayak kopi panas—nikmat di awal, tapi bisa nyengat kalau nggak hati-hati. Sekarang, tinggal tunggu aja… siapa yang bakal “diseruput” hukum selanjutnya?***












