Daftar Isi
MUDA BELIA- Siapa sangka, obrolan santai ditemani secangkir kopi bisa jadi momen penting buat masa depan para pelajar? Yup, itu yang terjadi ketika penggiat kebijakan publik, Abdullah Sani, ketemu langsung dengan perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung. Pertemuan ini bukan sekadar basa-basi. Ada misi serius: menyelamatkan hak pendidikan anak-anak di SMA Siger Bandar Lampung.
Sani ketemu dengan Danny Waluyo Jati, yang hadir mewakili Kabid SMA Disdikbud, Diona Katharina. Dari pertemuan itu, muncul vibe positif bahwa bakal ada titik terang terkait dugaan adanya perlakuan atau mekanisme yang nggak sesuai terhadap peserta didik di sekolah tersebut.
“Alhamdulillah, saya dijamu baik banget sama perwakilan Kabid. Malah dibuatkan kopi. Buat saya, itu vibe awal yang bagus kalau kita semua punya kepentingan yang sama buat jaga masa depan anak-anak ini,” ujar Sani lewat pesan WhatsApp, Kamis, 6 November 2025.
Menurut Sani, Danny terlihat sangat paham konteks dan urgensi persoalan yang lagi rame ini. Bukan cuma paham, tapi juga sefrekuensi: sama-sama peduli bahwa peserta didik SMA Siger itu masih anak-anak yang masa depannya jangan sampai dikorbankan.
“Anak-anak SMA Siger itu masih dalam tahap tumbuh dan cari jati diri. Pemerintah, masyarakat, ya kita semua, harus punya satu tujuan: selamatkan hak dan lingkungan belajar mereka. Dari pertemuan ini saya lihat Disdikbud juga punya semangat itu,” lanjut Sani.
FYI, Abdullah Sani selama ini memang cukup vokal menyuarakan indikasi adanya pelanggaran dalam sistem dan tata kelola yang terjadi di SMA Siger. Suaranya keras bukan karena sensasi, tapi karena menyangkut generasi penerus Lampung.
Dan sekarang, setelah pintu dialog dengan Disdikbud terbuka, Sani mengaku makin optimis. Ia berharap ke depannya bakal ada pendidikan yang jelas legalitasnya, punya integritas, dan pastinya aman untuk tumbuh kembang anak.
Bukan cuma sampai di pertemuan ngopi doang, nih. Disdikbud bakal menjadwalkan pertemuan lanjutan yang lebih serius bareng pejabat berwenang, termasuk Kepala Dinas. Artinya, masalah ini nggak di-skip, tapi betulan mau dituntaskan.
“Pertemuan ini bagus, dan ke depan pun harus terus bagus. Insyaallah nanti akan ada pembahasan lanjutan langsung dengan pejabat berwenang seperti Kepala Dinas,” tutup Sani penuh harapan.
Singkatnya:
Ngopi bukan sekadar ngopi. Kadang, dari obrolan santai bisa lahir langkah besar.
Dan kalau ini soal anak-anak dan masa depan mereka?
Wajib banget diperjuangkan sampai tuntas.













