Daftar Isi
- You might also like
- Hasto–PKS Mulai Panaskan Isu Ijazah Gibran, GEMA PUAN Desak Pemilu Ulang 2027!
- Alumni Unila All Out Dukung Dr. Budiono, Gino Vannolie: Saatnya Kampus Hijau Punya Pemimpin yang Paham Kebutuhan Mahasiswa
- Dr. Budiono Unggul dalam Pilrek Unila, Kantongi 22 Suara Senat dan Dapat Dukungan Habiburokhman
- 22 Suara, Bukan Sekadar Angka di Atas Kertas
- Unila Butuh Pemimpin yang Bisa Merangkul, Bukan Sekadar Berkuasa
- Gagasan Besar: Aset Kampus Harus Produktif, Mahasiswa Jangan Sampai Putus Kuliah
- Jangan Sampai Unila Tertinggal dari Kampus Lain
- Kursi Rektor Bukan Tujuan Akhir
MUDA BELIA – Persaingan menuju kursi Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 makin menarik. Dari tiga kandidat yang bersaing, Dr. Budiono berhasil mencuri perhatian setelah mengantongi 22 suara dalam penjaringan senat.
Angka ini menjadi sorotan karena Budiono mampu mengungguli dua kandidat lainnya yang menyandang gelar profesor, yakni Prof. Warsito dari Fakultas Matematika dan Prof. Asep Sukohar dari Fakultas Kedokteran.
Dari total 47 anggota senat, perolehan 22 suara tersebut menjadi modal dukungan yang cukup signifikan bagi Budiono. Hasil itu sekaligus memunculkan pertanyaan: apakah kepercayaan internal kampus akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kepemimpinan Unila berikutnya?
Wakil Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Lampung, Dr. As’ad Muzzammil, menilai capaian Budiono bukan sekadar angka dalam proses penjaringan. Menurutnya, dukungan tersebut mencerminkan kepercayaan dari unsur internal kampus yang memahami kebutuhan dan tantangan Unila.
Dalam opini yang diterbitkan BE1Lampung pada Kamis, 29 Oktober 2026, Muzzammil menyebut suara senat sebagai representasi aspirasi arus bawah yang patut diperhitungkan.
“Pertama dari aspek kepatutan. Dalam hal ini, suara senat adalah suara arus bawah yang tidak terbantahkan,” tulisnya.
22 Suara, Bukan Sekadar Angka di Atas Kertas
Bagi Muzzammil, memperoleh 22 suara dari 47 anggota senat menunjukkan Budiono memiliki modal kepercayaan internal yang kuat.
Dukungan tersebut dinilainya penting karena berasal dari para guru besar dan perwakilan fakultas yang mengetahui langsung dinamika serta kebutuhan universitas.
“Penjaringan adalah cerminan trust internal. Jika seorang calon mampu meraih 22 suara atau hampir 50 persen suara senat yang hadir, itu artinya ada legitimasi moral yang kuat dari para guru besar dan perwakilan fakultas,” ungkapnya.
Menurut Muzzammil, memilih rektor bukan hanya soal siapa yang memiliki gelar akademik paling tinggi. Lebih dari itu, kampus membutuhkan sosok yang punya kapasitas memimpin, integritas, kemampuan membangun komunikasi, serta sanggup menyatukan berbagai kepentingan.
Dalam pandangannya, Budiono memiliki modal tersebut.
Sebagai dosen Hukum Tata Negara sekaligus Ketua Sistem Pengawas Internal Unila, Budiono dinilai mempunyai kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, lembaga negara, BUMN, hingga perusahaan swasta.
Kemampuan membangun jejaring ini dianggap penting untuk membawa hasil riset dosen dan mahasiswa keluar dari ruang akademik agar bisa dimanfaatkan industri dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Unila Butuh Pemimpin yang Bisa Merangkul, Bukan Sekadar Berkuasa
Tantangan Unila ke depan tidak ringan. Kampus ini harus terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat riset, memperbaiki tata kelola, sekaligus menjaga kepercayaan publik.
Karena itu, Muzzammil menilai sosok rektor yang mampu merangkul seluruh elemen kampus menjadi kebutuhan penting.
Ia mengingatkan Unila membutuhkan pemimpin yang kuat di dalam, bukan hanya memiliki dukungan dari luar.
“Ini penting untuk aspek kepatutan. Unila pasca kasus beberapa tahun lalu sangat membutuhkan pemimpin yang diterima secara kolektif, bukan pemimpin yang hanya kuat karena sokongan luar tapi lemah di dalam,” tulisnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan universitas harus dibangun melalui kepercayaan, keterbukaan, dan kerja bersama.
Sebab, kampus tidak bisa berkembang maksimal jika energi internal justru habis untuk menghadapi perbedaan kepentingan.
Gagasan Besar: Aset Kampus Harus Produktif, Mahasiswa Jangan Sampai Putus Kuliah
Hal menarik lainnya adalah gagasan Budiono untuk mengajak alumni dari berbagai fakultas ikut menghidupkan dan memberdayakan aset-aset strategis Unila.
Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi kampus. Alumni tidak hanya menjadi bagian dari sejarah universitas, tetapi juga diharapkan ikut mengambil peran dalam membangun masa depan almamater.
Jika dikelola secara profesional, aset kampus dan jejaring alumni berpotensi menjadi sumber daya untuk mendukung kegiatan akademik, riset, hingga peningkatan layanan pendidikan.
Ada satu persoalan yang juga menjadi perhatian: jangan sampai mahasiswa kehilangan kesempatan menyelesaikan pendidikan hanya karena tidak mampu membayar UKT.
Gagasan ini menyentuh persoalan mendasar perguruan tinggi negeri. Kampus bukan hanya tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus memastikan akses pendidikan tetap terbuka bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi.
Kemandirian ekonomi kampus pun seharusnya tidak berhenti sebagai jargon. Harus ada strategi nyata untuk mengoptimalkan aset, memperkuat kerja sama, dan menghadirkan manfaat bagi sivitas akademika.
Jangan Sampai Unila Tertinggal dari Kampus Lain
Persaingan perguruan tinggi juga semakin kompetitif. Institut Teknologi Sumatera (Itera), misalnya, terus membangun reputasi melalui inovasi, pengembangan infrastruktur, dan riset.
Unila tentu tidak boleh hanya mengandalkan nama besar sebagai perguruan tinggi negeri tertua di Lampung. Perlu terobosan agar kampus ini semakin diperhitungkan di tingkat nasional.
Riset dosen dan mahasiswa harus semakin terhubung dengan kebutuhan industri. Kerja sama dengan pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, serta alumni perlu diperluas agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi, tetapi mampu menjadi solusi bagi masyarakat.
Di sinilah kepemimpinan rektor berikutnya akan diuji: mampu menjaga kepercayaan internal sekaligus membawa Unila melompat lebih jauh.
Muzzammil menilai perolehan suara Budiono menjadi sinyal bahwa ia memiliki modal penerimaan internal untuk membangun kepemimpinan yang lebih kolektif.
“Kemenangan telak Budiyono menjadi sinyal bahwa dia adalah figur pemersatu di tengah perbedaan pilihan,” tulisnya.
Kursi Rektor Bukan Tujuan Akhir
Perolehan 22 suara tentu menjadi modal penting bagi Budiono. Namun, proses pemilihan rektor masih harus mengikuti tahapan dan ketentuan yang berlaku di Unila.
Pada akhirnya, publik kampus tidak hanya menunggu siapa yang akan duduk di kursi rektor. Yang jauh lebih penting adalah siapa yang mampu menghadirkan perubahan nyata.
Unila membutuhkan pemimpin yang bisa memperkuat tata kelola, mengoptimalkan aset, memperluas jejaring, meningkatkan kualitas riset, dan memastikan mahasiswa tidak kehilangan kesempatan kuliah karena persoalan biaya.
Pertanyaannya sekarang: siapa yang paling siap membawa Unila naik kelas?
Dukungan 22 suara telah menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan Budiono menuju kursi rektor. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa kepercayaan tersebut dapat diterjemahkan menjadi gagasan, kepemimpinan, dan hasil nyata bagi masa depan Unila.







