Daftar Isi
- You might also like
- Kasus SMA Siger Lagi Ramai: Dari Dugaan Konflik Kepentingan sampai Sorotan Dana Publik
- Jalan Belum Tertutup! Yayasan Siger Masih Bisa Ajukan Izin Operasional Baru, Asal Penuhi Syarat
- BOSDA Bandar Lampung Bikin Netizen Garuk Kepala: Jadi Rp71 Ribu atau Rp100 Ribu, Sih?
- “Dulu janji, sekarang masih jadi PR”
- Saat Hujan Datang, Obrolan Lama Kembali Muncul
- Soal Anggaran, Publik Ikut Menghitung
- Netizen & Warga Ikut Punya Pendapat
- Intinya: Semua Lagi Cari Jawaban
MUDA BELIA – Isu banjir di Kota Bandar Lampung lagi-lagi jadi bahan obrolan publik. Bukan cuma soal air yang naik saat hujan deras, tapi juga soal janji politik yang kembali diingat-ingat warga dan pengamat.
Politikus senior Lampung, Ferdi Gunsan, menyoroti kembali komitmen Wali Kota Eva Dwiana terkait penanganan banjir yang pernah disampaikan sejak Pilkada 2019. Menurutnya, hingga kini persoalan banjir masih terus terjadi di sejumlah titik kota.
“Dulu janji, sekarang masih jadi PR”
Dalam berbagai pernyataannya, Ferdi menilai bahwa janji-janji kampanye seperti normalisasi sungai, perbaikan drainase, hingga pembangunan talud dan bronjong belum sepenuhnya terlihat dampaknya di lapangan.
Bagi publik, ini jadi semacam “reminder” bahwa problem banjir bukan isu baru—tapi masalah lama yang belum benar-benar selesai.
Saat Hujan Datang, Obrolan Lama Kembali Muncul
Yang bikin isu ini kembali panas adalah momen saat Wali Kota turun langsung ke lokasi banjir dan mengajak berbagai pihak berdiskusi mencari solusi.
Ferdi menilai hal itu menunjukkan bahwa penanganan banjir masih dalam tahap pencarian formula, bukan sesuatu yang sudah benar-benar matang dari sisi kebijakan teknis.
Soal Anggaran, Publik Ikut Menghitung
Selain soal janji, perhatian juga tertuju pada besaran anggaran penanganan bencana yang disebut sekitar Rp600 juta untuk kondisi darurat banjir.
Di sisi lain, muncul perbandingan dengan alokasi dana hibah pemerintah daerah yang disebut mencapai puluhan miliar rupiah untuk pembangunan fasilitas tertentu.
Dari sini, diskusi publik mulai melebar ke satu pertanyaan klasik:
“Sebenarnya, prioritas utama kota ini ke mana?”
Netizen & Warga Ikut Punya Pendapat
Di era sekarang, semua cepat viral. Warga bukan cuma jadi penonton, tapi juga ikut komentar, banding-bandingin, bahkan bikin analisis sendiri di media sosial.
Ada yang menilai banjir harusnya jadi fokus utama pembangunan kota. Ada juga yang melihat bahwa masalah ini butuh waktu dan sistem yang lebih panjang, bukan sekadar solusi instan.
Intinya: Semua Lagi Cari Jawaban
Yang jelas, isu banjir Bandar Lampung bukan cuma soal air yang naik turun, tapi juga soal ekspektasi publik, janji politik, dan realita di lapangan.
Dan sampai sekarang, satu hal masih sama:
warga masih berharap ada solusi yang benar-benar “nendang”, bukan sekadar wacana.***







