Daftar Isi
MUDA BELIA- Kenalin. Ini bukan wilayah luas keempat di Amerika Serikat yang berbatasan dengan Kanada, tapi Montana yang ini ialah orang yang bentang liar pikiran dan perasaannya mempesona.
Lebih detail gimana tampan, putih dan keren atau necis kekinian style-nya lebih baik skip, ya enggak?
Karena yang penting dari beliau ini ialah temuannya tentang pejabat-pejabat Kota di salah satu provinsi pimpinan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, yang agaknya, enggak kerasan lagi di bawah komando pimpinan tertinggi.
Cerita dia sih, kata dia ya ini, kata dia— saat bertemu Plt atau Plh Kepala Dinas instansi pencetak generasi unggul tingkat dasar menjelang hearing dengan salah satu komisi DPRD Kota entah Metro atau Bandar Lampung pada Senin, 18 Mei 2026— silahkan tebak sendiri.
Plt ataupun Plh itu berbincang dengan 2 hingga 3 jurnalis sambil menunggu bunda ratu nomor dua.
Nah, dalam perbincangannya ini terselip kalimat yang cukup membingungkan. Entah karena dia merendah sehingga enggak mau kawan-kawan wartawan mengetahui tabiat aslinya untuk berkuasa penuh sebagai kepala instansi defenitif, atau lantaran dia orang yang jujur.
Jadi menurut Montana ini, Plt atau pun Plh yang waktu itu menunggu dan sesekali sibuk menelpon bunda ratu agar segera hadir ke ruang hearing– dia berujar, sengaja terbuka kepada wartawan dan ogah-ogahan menata instansi yang baru didudukinya dengan harapan tidak lagi di sana lantaran pimpinan melihatnya yang sudah tak mampu menjaga amanah dan menjalankan roda-roda gila anggaran yang switch sana switch ini.
Apalagi menurutnya, hampir semua jajaran dalam instansi itu masih berpegang teguh pada komando bunda ratu yang saat baru tiba di gedung dewan pada hari itu langsung bikin geger Setwan DPRD Kota Bandar Lampung lantatan enggan para jurnalis mengambil gambar dan merekam visualnya. Bahkan Setwan itu langsung mengumpulkan semua wartawan dan menjamu mereka bak para raja meski sajiannya sederhana seperti kopi, air dingin dan kopi.
Dasar bunda ratu yang banyak bikin geger dan merepotkan sejumlah orang. Pantes, Plh atau Plt penggantinya ogah-ogahan bekerja maksimal untuk menjalankan program dan mendistribusikan anggaram bagi kebaikan generasi penerus tingkat dasar.
Di dalam hearing itu, Plh ataupun Plt ini tampak kurang bersemangat dan banyak menunduk serta meminta staf atau kabidnya yang menjelaskan.
Bisa jadi, lantaran ganjalan bantal dan guling apek kepala instansi yang sok-sok-an sebagai pemimpin momor dua kota ini.
Cerita kedua dari salah jurnalis Purwarki yang sudah dedengkot menyedot atau menikmati anggaran kominfo.
Menurutnya sudah banyak kadis-kadis yang enggan menjadi kepala dinas karena ruwednya perintah memerintah yang di luar prosedur perundang-undangan dan memindah-mindahkan anggaran kepunyaan haknya B e haknya C dan selalu begitu seterusnya.***











