Daftar Isi
MUDA BELIA— Dulu dielu-elukan bak “superhero ekonomi” baru di kabinet Prabowo Subianto, sekarang nama Purbaya Sadhewa justru makin sering jadi bahan omongan publik gara-gara kondisi ekonomi yang dianggap makin bikin rakyat deg-degan.
Rupiah yang tembus sampai Rp17.584 per dolar AS pada Minggu (24/5/2026) bikin timeline ekonomi nasional makin panas. Warganet mulai mempertanyakan: “Ini ekonomi lagi baik-baik aja atau sebenarnya lagi megap-megap?”
Padahal di awal menjabat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati, Purbaya sempat tampil meyakinkan banget.
Ia datang dengan gaya yang beda. Bukan tipe birokrat yang terlalu formal, tapi lebih berani bikin statement keras. Mulai dari perang lawan mafia impor baju bekas, rokok ilegal, sampai kritik soal cukai rokok yang disebutnya seperti “Fir’aun”.
Belum lagi gebrakan Rp300 triliun yang digelontorkan ke bank-bank Himbara buat dorong ekonomi rakyat. Banyak yang waktu itu mikir: “Wah, ini menteri bakal jadi penjaga ekonomi baru Indonesia.”
Tapi realita 2026 ternyata enggak semulus konten campaign.
Defisit APBN tembus Rp164,4 triliun pada April 2026. Pemerintah daerah mulai teriak soal efisiensi anggaran. Banyak proyek tersendat, rekanan ngos-ngosan, dan efek dominonya mulai terasa ke ekonomi bawah.
Yang bikin publik makin waswas, utang pemerintah juga terus naik.
Data Bank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia mencapai US$437,9 miliar atau sekitar Rp7.750 triliun pada Februari 2026.
Sementara total utang pemerintah sendiri sudah hampir menyentuh Rp10 ribu triliun.
Belum selesai sampai situ, media sosial juga ramai ngebahas soal anggaran yang dianggap absurd. Mulai dari pengadaan motor listrik untuk kepala SPPG sampai urusan semir sepatu dan kaus kaki yang ikut masuk pembahasan anggaran.
Netizen langsung ramai bikin meme dan komentar satire.
“Rakyat disuruh hemat, tapi anggaran malah vibes-nya flexing,” tulis salah satu akun di X.
Di sisi lain, tekanan global memang lagi enggak santai. Konflik Timur Tengah, panasnya Selat Hormuz, sampai dolar yang makin perkasa bikin banyak negara ikut goyah.
Masalahnya, publik sekarang bukan cuma pengen pidato optimistis atau senyum pejabat di depan kamera. Yang dicari masyarakat adalah kepastian harga stabil, rupiah enggak makin jeblok, dan hidup sehari-hari enggak makin berat.
Karena buat generasi sekarang, ekonomi bukan lagi sekadar angka di layar presentasi kementerian. Tapi soal harga bensin, cicilan, biaya makan, kerjaan yang makin susah, sampai isi dompet yang makin tipis sebelum akhir bulan.
Dan sekarang, satu pertanyaan mulai muncul di banyak kepala:
Apakah Purbaya masih superhero ekonomi seperti yang dulu dibayangkan publik, atau justru mulai kehilangan sihirnya di tengah badai ekonomi 2026?***









