Daftar Isi
- You might also like
- Penyadapan Presiden Dikaitkan dengan Makar, Advokat Hendri Adriansyah: Jangan Asal Tarik Kesimpulan!
- Maklumat Matraman Bersuara Keras! Pemerintah Diminta Berpihak ke Rakyat, Jika Tidak Pemilu Ulang Jadi Tuntutan
- Saling Bantah di Sidang PI 10 Persen! Ririn Sebut Terima Rp50 Juta, Hermawan Membantah
- Jangan Sampai Kampus Terjebak di Menara Gading
- Visi Calon Rektor Harus Nyambung dengan Realitas
- Dukungan Alumni untuk Kolaborasi Pendidikan
MUDA BELIA— Kampus bukan cuma soal ruang kuliah, teori di papan tulis, atau penelitian yang berakhir di rak perpustakaan. Perguruan tinggi juga dituntut hadir di tengah masyarakat dan memberi solusi atas persoalan nyata.
Isu inilah yang bakal dibahas dalam dialog bersama Dr. Budiyono, S.H., M.H., salah seorang bakal calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031. Kegiatan yang diinisiasi Komunitas Alumni Unila Peduli Pilrek Unila 2026 itu dijadwalkan berlangsung pada Jumat (16/10/2026) di Sekolah Az Zahra, Bandar Lampung.
Mengangkat tema “Menyoal Tembok Menara Gading, Ketika Teori-teori di Ruang Kampus Bertemu Realitas”, diskusi ini akan mempertemukan Budiyono dengan alumni, praktisi, dan penggiat pendidikan untuk membicarakan arah pengembangan kampus yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Inisiator dialog, Mochammad Nashir Badri, alumni Unila angkatan 1987, mengatakan Budiyono dipilih karena dinilai memiliki kapasitas akademik serta jaringan yang luas di berbagai bidang.
“Mengapa Budiyono? Karena yang bersangkutan kami anggap sebagai representasi alumni Unila yang memiliki kekuatan di berbagai aspek, dan sangat layak untuk memimpin almamater tercinta,” ujar Nashir.
Menurutnya, pengalaman akademik dan hubungan Budiyono dengan berbagai kalangan bisa menjadi modal untuk memperkuat peran kampus, bukan hanya dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga dalam pengabdian kepada masyarakat.
Jangan Sampai Kampus Terjebak di Menara Gading
Istilah menara gading menjadi salah satu isu utama dalam dialog ini. Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika dunia akademik terasa jauh dari realitas dan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Nashir, mengutip istilah yang digunakan sesama alumni Unila, Gino Vanoli, menilai jarak antara kampus dan masyarakat perlu menjadi bahan evaluasi.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu lebih terbuka terhadap kebutuhan publik. Jangan sampai hasil penelitian hanya menjadi dokumen akademik, sementara persoalan di lapangan belum mendapatkan jawaban yang relevan.
Kampus juga diharapkan mampu membangun kolaborasi dengan sekolah, komunitas, pelaku usaha, dan berbagai elemen masyarakat. Dengan begitu, keahlian akademisi bisa bertemu langsung dengan kebutuhan nyata.
Intinya, perguruan tinggi bukan hanya tempat mencetak lulusan, tetapi juga ruang untuk menghasilkan gagasan dan solusi yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya.
Visi Calon Rektor Harus Nyambung dengan Realitas
Nashir mengatakan dialog dengan berbagai kalangan penting agar gagasan pengembangan perguruan tinggi tidak berhenti pada konsep, tetapi juga mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Keterbukaan, empati, serta komunikasi dua arah dinilai menjadi modal penting untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara kampus dan lingkungan sekitarnya.
Melalui forum tersebut, peserta diharapkan dapat menyampaikan pandangan mengenai persoalan pendidikan di Lampung, termasuk bagaimana perguruan tinggi bisa berkontribusi melalui penelitian terapan, pengembangan sumber daya manusia, dan program pengabdian yang tepat sasaran.
Dialog ini sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan visi dan misi yang dibawa Budiyono dengan masukan dari para praktisi pendidikan.
Dukungan Alumni untuk Kolaborasi Pendidikan
Alumni Unila, Ning Siti Fatimah, yang dikenal sebagai pendidik sekaligus pengelola lembaga pendidikan di Bandar Lampung, turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Ia menilai dialog antara akademisi dan praktisi pendidikan dapat menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret.
Dunia pendidikan, menurut pandangan yang disampaikan penyelenggara, membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar pengembangan generasi muda tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menjawab tantangan kehidupan nyata.
Dengan kolaborasi yang tepat, kampus dan masyarakat diharapkan dapat saling menguatkan dalam mempersiapkan generasi Indonesia Emas.
Dialog yang dipandu Gino Vanoli ini diharapkan membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang bagaimana Unila dapat memperkuat relevansinya bagi masyarakat Lampung.
Sebab, kampus yang berkembang bukan hanya kampus yang kuat secara akademik, tetapi juga yang mampu membangun hubungan, mendengar kebutuhan publik, dan menghadirkan manfaat nyata di luar lingkungan perguruan tinggi.***










