Daftar Isi
- You might also like
- Bukan Cuma Teori, BNNK Lampung Selatan Ajak Pelajar Jadi Garda Depan Lawan Narkoba
- Wartawan Senior Nelson Diduga Diintimidasi, PRO RAKYAT Desak Kapolda Lampung Bergerak
- PANJI PADANG RATU BERSUARA! POLEMIK KETUA MUI LAMPURA DISOROT, DUGAAN TEKANAN TERHADAP KELUARGA KORBAN JADI PERHATIAN
- Alumni Punya Potensi, Tinggal Dibuka Ruang Kolaborasinya
- Kampus Jangan Cuma Jadi Menara Gading
- Alumni Keluhkan Birokrasi yang Terasa Berjarak
- Saatnya Alumni dan Kampus Tumbuh Bareng
MUDA BELIA– Kampus seharusnya bukan cuma jadi tempat menimba ilmu, lalu ditinggalkan setelah lulus. Hubungan antara perguruan tinggi dan alumni perlu tetap terhubung, saling mendukung, dan berkembang bersama.
Pesan itulah yang disampaikan bakal calon Rektor Universitas Lampung (Unila), Dr. Budiono, saat bertemu dengan sejumlah alumni di Sekolah Az Zahra, Bandar Lampung, Jumat (16/10/2026).
Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi tentang bagaimana alumni bisa mengambil peran lebih besar dalam membangun kampus sekaligus memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Sejumlah alumni yang hadir di antaranya Gino Vanollie, Sekretaris Dewan Pendidikan Lampung, serta Ari Pahala Hutabarat yang pada 2026 meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa.
Dalam kesempatan itu, Budiono menegaskan bahwa alumni bukan sekadar orang yang pernah kuliah di Unila. Mereka merupakan bagian penting dari ekosistem kampus yang punya potensi besar untuk ikut mendorong kemajuan institusi.
Menurutnya, kampus jangan hanya menghubungi alumni ketika sedang membutuhkan bantuan. Hubungan tersebut harus dibangun secara konsisten, bukan sekadar datang saat ada kepentingan.
“Unila ini bukan milik kampus, tapi stakeholder terutama alumni. Jangan alumni itu dipanggil ketika diperlukan,” kata Budiono.
Alumni Punya Potensi, Tinggal Dibuka Ruang Kolaborasinya
Budiono melihat banyak alumni Unila punya kemampuan untuk berkiprah di berbagai bidang strategis. Mulai dari BUMN, kementerian, dunia penelitian, hingga lembaga riset dan advokasi.
Potensi itu, menurutnya, bisa menjadi kekuatan besar jika dikelola melalui jaringan alumni yang lebih solid dan terorganisasi.
“Alumni kita punya kemampuan tapi belum terorganisir. Salah satu contohnya Ari Pahala meraih penghargaan nasional, kemudian ada Wamen Imigrasi itu dari fakultas hukum kita,” ujarnya.
Budiono juga menyinggung Universitas Padjadjaran sebagai contoh perguruan tinggi yang memiliki jejaring alumni kuat di berbagai institusi, termasuk bidang hukum.
Baginya, keberhasilan alumni bukan hanya pencapaian individu. Prestasi tersebut juga bisa menjadi pintu masuk untuk membangun kolaborasi yang lebih luas antara kampus, dunia kerja, dan masyarakat.
“Kalau kita ingat di departemen hukum, itu kebanyakan alumni Unpad. Ini bentuk semangat kebersamaan dengan alumni,” katanya.
Ia meyakini, ketika kampus mampu menghargai dan mendukung alumninya, kepercayaan serta perhatian terhadap Unila juga akan semakin besar.
“Kalau kita bisa menghargai alumni maka akan banyak orang yang menaruh perhatian untuk Unila,” tuturnya.
Kampus Jangan Cuma Jadi Menara Gading
Dosen Unila, Tuntun Sinaga, menyambut positif gagasan untuk memperkuat hubungan kampus dengan alumni.
Menurutnya, tanggung jawab perguruan tinggi tidak otomatis selesai ketika mahasiswa menerima ijazah. Kampus tetap perlu membuka ruang komunikasi dan membantu menghubungkan kebutuhan alumni dengan potensi yang dimiliki institusi.
Ia menilai, hubungan yang sehat antara kampus dan alumni harus berjalan dua arah. Alumni punya kebutuhan dan pengalaman di dunia nyata, sementara kampus memiliki pengetahuan, sumber daya, serta jaringan yang bisa dikembangkan bersama.
“Kampus tidak bisa lepas dari tanggungjawab terhadap lulusannya, jadi ini salah satu program yang bagus agar Unila tak hanya dekat dengan alumni, tapi bisa mengakomodir kebutuhan para alumni,” ujarnya.
Intinya, kampus perlu lebih peka terhadap perkembangan dan kebutuhan lulusannya. Bukan hanya bangga ketika alumni meraih prestasi, tetapi juga ikut membuka peluang agar mereka terus berkembang.
Alumni Keluhkan Birokrasi yang Terasa Berjarak
Di sisi lain, Gino Vanollie menyoroti persoalan birokrasi yang dinilai masih menjadi tantangan dalam membangun komunikasi antara alumni dan pihak kampus.
Menurutnya, hubungan alumni dengan rektorat terkadang terasa terlalu formal dan berjarak. Akibatnya, akses komunikasi yang seharusnya bisa dibangun dengan mudah justru menjadi tidak sederhana.
“Problem kita adalah problem birokratik yang terlalu jauh. Di kampus (rektorat) ada protokolnya sehingga sangat susah dekat dengan kita (alumni),” ujar Gino, lulusan FKIP Unila.
Ia menjelaskan, gagasan mempererat hubungan alumni dan kampus muncul dari keinginan untuk mengurangi jarak tersebut. Harapannya, komunikasi tidak lagi terhambat prosedur yang menyulitkan, sehingga alumni bisa ikut berkontribusi untuk kemajuan Unila.
“Kenapa tema ini kita ambil, agar tidak ada lagi problem birokratik dan nyambung kampus dengan masyarakatnya,” lanjutnya.
Saatnya Alumni dan Kampus Tumbuh Bareng
Pertemuan tersebut menegaskan pentingnya membangun hubungan yang lebih terbuka antara Unila dan para alumninya.
Di tengah perubahan dunia kerja dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, jaringan alumni bisa menjadi modal penting untuk memperluas kesempatan, memperkuat kolaborasi, serta mendorong inovasi.
Bagi kampus, alumni bukan sekadar bagian dari masa lalu. Mereka juga bisa menjadi partner untuk menghadapi tantangan masa depan.
Pesannya sederhana: hubungan kampus dan alumni jangan berhenti setelah wisuda. Saat komunikasi makin terbuka dan kolaborasi benar-benar berjalan, manfaatnya bukan hanya dirasakan alumni, tetapi juga Unila dan masyarakat Lampung.







