Daftar Isi
- You might also like
- Tempat Bertemu Orang Sepemikiran Tanpa Takut Di-judge
- Komunitas Kreatif yang Bikin Anak Muda Berani Berkarya
- Komunitas yang Mengubah Cara Pandang Anak Muda
- Bukan Cuma Barang Kuno, Ada Jejak Sejarah yang Perlu Diungkap
- Kok Bisa Ada Jejak Berbagai Dinasti di Satu Lokasi?
- Bidik Dukungan Fadli Zon untuk Pelestarian Sejarah
MUDA BELIA- Bandar Lampung menyimpan cerita masa lalu yang menarik untuk ditelusuri. Saburai Budaya Nusantara kini makin serius mendorong pelestarian sejarah dan budaya Nusantara dengan membidik dukungan dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon.
Bukan tanpa alasan. Sejumlah benda yang diduga berkaitan dengan situs bersejarah di Kota Bandar Lampung menjadi perhatian. Temuan tersebut disebut-sebut berasal dari berbagai dinasti dan kerajaan, mulai dari Dinasti Tang, Song, dan Ming di China, peninggalan Vietnam, hingga Kerajaan Sukhotai di Thailand.
Semua ini mengarah pada satu pertanyaan besar: seperti apa kehidupan masyarakat yang pernah berlangsung di lokasi tersebut?
Ketua Saburai Budaya Nusantara, Rudi Santoso, mengatakan pihaknya telah menyelesaikan urusan payung hukum sesuai arahan dari pusat. Organisasi itu juga telah menyiapkan setidaknya tiga program kerja terkait cagar budaya.
“Alhamdulilah kita sudah beres untuk urusan payung hukum sesuai arahan pusat. Minimal sekarang ini ada 3 program kerja untuk Cagar Budaya. Untuk Menteri Kebudayaan, kita khusus membahas situs bersejarah di Bandar Lampung,” kata Rudi Santoso pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Bukan Cuma Barang Kuno, Ada Jejak Sejarah yang Perlu Diungkap
Di Sekretariat Saburai Budaya Nusantara, Rudi bersama Sekretaris Muhammad Alfariezie dan Bendahara Lilis Suryani memperlihatkan sejumlah benda bersejarah yang ditemukan di lokasi yang terindikasi sebagai situs kerajaan di Kota Bandar Lampung.
Menurut Rudi, benda-benda yang akan dilaporkan kepada Fadli Zon sebagai temuan awal untuk pembentukan cagar budaya itu memiliki beragam asal-usul. Di antaranya pecahan keramik dari Dinasti Tang, Song, dan Ming, benda peninggalan Vietnam, serta keramik yang dikaitkan dengan Kerajaan Sukhotai Thailand.
Ada juga uang kepeng dari sejumlah negara tersebut, termasuk uang kepeng peninggalan VOC Belanda.
Tak hanya itu, temuan yang diperlihatkan juga mencakup benda-benda yang disebut sebagai peninggalan budaya Nusantara, seperti pecahan candi dan batu-batu penumbuk emas.
“Seperti yang terlihat ini, ada pecahan mangkuk dari Dinasti Tang, Song dan Ming. Kemudian ada uang kepeng dari China, Vietnam dan VOC. Juga ada keramik dari Kerajaan Sukhotai Thailand dan ada juga dari Budaya Nusantara berupa pecahan undakan candi dari batuan Sandstone dan Andesit,” ujarnya.
Kok Bisa Ada Jejak Berbagai Dinasti di Satu Lokasi?
Inilah bagian yang membuat temuan tersebut menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Jika asal-usul benda-benda itu dapat dibuktikan melalui penelitian, temuan tersebut berpotensi membantu mengungkap cerita sejarah yang pernah berlangsung di kawasan tersebut.
Namun, asal-usul, usia, dan konteks sejarah benda-benda itu masih perlu dikaji lebih lanjut oleh pihak yang berkompeten.
Rudi pun mempertanyakan kehidupan seperti apa yang pernah berlangsung di lokasi observasi yang terindikasi sebagai situs bersejarah tersebut.
“Ini kan menarik. Kok bisa-bisanya ada barang-barang dari 3 Dinasti dan berbagai negara. Apa sebenarnya yang ada di sana?” Tanya Rudi.
Pertanyaan itu menjadi salah satu alasan Saburai Budaya Nusantara ingin mendorong perhatian pemerintah terhadap temuan tersebut.
Bidik Dukungan Fadli Zon untuk Pelestarian Sejarah
Temuan lintas dinasti dan kerajaan tersebut semakin memantapkan langkah Saburai Budaya Nusantara untuk mencari dukungan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon.
Targetnya bukan sekadar mengumpulkan benda-benda kuno, tetapi juga mendorong pendataan dan pelestarian warisan budaya agar berbagai sudut pandang sejarah Kota Bandar Lampung bisa ditelusuri lebih jauh.
Menurut Rudi, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan karena kegiatan observasi dilakukan di atas tanah milik orang lain. Karena itu, diperlukan kesepakatan yang jelas agar proses penelitian dan pelestarian berjalan sesuai ketentuan.
“Tanpa dukungan pemerintah, ya kegiatan kita bisa tergolong ilegal walaupun kita sudah punya payung hukum resmi. Tanah yang kita gali juga kan milik orang, perlu kesepakatan yang jelas dan itu kita memerlukan support pemerintah.”
Bagi Saburai Budaya Nusantara, temuan ini menjadi pintu awal untuk menggali lebih dalam jejak sejarah di Bandar Lampung. Kini, tantangannya adalah memastikan setiap benda diteliti secara ilmiah, asal-usulnya diverifikasi, dan proses pelestariannya berjalan sesuai aturan.
Sebab, sejarah bukan hanya soal benda yang ditemukan, tetapi juga tentang cerita di baliknya yang perlu dibuktikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.***












