Daftar Isi
- FOMO: Takut Ketinggalan Itu Normal, Tapi…
- You might also like
- Buku Rp70 Ribu di SMPN 2 Kalianda Bikin Heboh, Klarifikasi Sekolah Kini Dipertanyakan
- Bantuan Beras 30 Kg Mulai Disalurkan, 55 Ribu Warga Pringsewu Masuk Daftar Penerima
- Karhutla Mengintai Gunung Rajabasa, 128 Kebakaran Terjadi di Lamsel Sepanjang 2026
- JOMO: Nikmati Waktu Sendiri, Tanpa Rasa Cemas
- Gimana Anak Muda Pilihnya?
- Mana yang Lebih Baik? FOMO atau JOMO?
MUDA BELIA- Zaman sekarang, kayaknya setiap hari ada aja hal baru yang bikin kita merasa harus ikut. Entah itu acara, tren, atau kehidupan sosial yang serba sibuk. Bagi anak muda, dua istilah yang belakangan sering banget kita denger adalah FOMO (Fear of Missing Out) dan JOMO (Joy of Missing Out). Dua hal ini kayak dua sisi mata uang yang sering banget jadi pertimbangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Lalu, sebenernya anak muda zaman sekarang lebih suka yang mana? FOMO atau JOMO?
FOMO: Takut Ketinggalan Itu Normal, Tapi…
FOMO atau Fear of Missing Out itu kayak perasaan takut kalau kita ketinggalan momen atau tren seru yang lagi happening di sekitar kita. Misalnya, kalau semua temen-temen lagi ikut konser, ngejalanin challenge TikTok, atau nongkrong di kafe kekinian, kamu merasa nggak lengkap kalo nggak ikutan. Kalo lagi scroll social media, liat temen-temen posting foto seru-seruan, kadang rasanya pengen banget jadi bagian dari itu semua.
Tapi, di balik rasa ingin selalu hadir itu, FOMO bisa jadi masalah juga. Dulu mungkin kita nggak terlalu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan, tapi sekarang, social media bikin kita terus-terusan ngebandingin diri sama orang lain. FOMO bisa bikin kita merasa nggak puas dengan apa yang kita punya, dan akhirnya mengejar hal-hal yang sebenernya nggak terlalu penting buat kebahagiaan kita.
Misalnya, kamu ikut-ikutan beli barang atau pergi ke acara karena takut dibilang ketinggalan zaman. Padahal, sebenarnya kamu nggak terlalu butuh itu semua. FOMO sering bikin kita lupa akan apa yang sebenarnya penting buat diri sendiri dan malah ikut arus hanya untuk tampak keren di depan orang lain.
JOMO: Nikmati Waktu Sendiri, Tanpa Rasa Cemas
Di sisi lain, ada JOMO atau Joy of Missing Out—perasaan nyaman dan bahagia karena memilih untuk melewatkan kegiatan atau acara tertentu. JOMO nggak berarti kamu anti sosial atau nggak peduli dengan dunia luar. Tapi lebih ke, kamu memilih untuk menikmati waktu kamu sendiri tanpa tekanan buat ikut dalam semua hal yang lagi viral.
Buat banyak anak muda sekarang, JOMO mulai jadi pilihan yang lebih sehat. Coba deh bayangin, kamu nggak perlu pusing-pusing harus hadir di setiap acara, nggak perlu ngejar tren yang lagi hits, dan bisa lebih fokus untuk self-care. JOMO ngajarin kita buat lebih mindful, fokus sama diri sendiri, dan menghargai waktu untuk recharge.
JOMO bisa berarti nemenin diri sendiri nonton film favorit, baca buku, atau bahkan tidur yang cukup. Kadang, saat kita gak terikat dengan “keharusan” buat selalu ikut semua hal, kita jadi lebih bisa ngerasa bahagia karena kita nggak tertekan.
Gimana Anak Muda Pilihnya?
Sekarang, banyak anak muda yang mulai lebih sadar dan pilih JOMO ketimbang FOMO. Mereka lebih fokus ke kualitas daripada kuantitas, dan lebih berusaha mendengarkan diri sendiri ketimbang mengejar ekspektasi orang lain. Memang sih, FOMO itu seru dan bikin kita merasa ada di tengah kehidupan yang penuh aktivitas, tapi kadang kita butuh waktu buat berhenti dan menikmati momen tanpa harus mengejar banyak hal.
JOMO mungkin nggak akan pernah bisa sepenuhnya menggantikan FOMO, karena tetap ada saatnya kita pengen merasa bagian dari sesuatu. Tapi, yang pasti, anak muda sekarang udah mulai paham bahwa kebahagiaan itu nggak selalu datang dari ikut tren atau selalu ada di keramaian. Kadang, kebahagiaan datang dari momen-momen kecil yang bisa dinikmati secara pribadi.
Mana yang Lebih Baik? FOMO atau JOMO?
Sebenernya, nggak ada yang lebih baik atau lebih buruk antara FOMO dan JOMO. Kedua hal ini bisa jadi bagian dari kehidupan yang saling melengkapi. Terkadang kita butuh FOMO untuk merasa terhubung dengan orang-orang dan dunia luar, dan kadang kita butuh JOMO untuk menjaga keseimbangan hidup dan mental. Yang penting, kita bisa bijak memilih kapan saatnya untuk keluar dan menikmati keramaian, dan kapan saatnya untuk berhenti sejenak dan fokus ke diri sendiri.
Pada akhirnya, keseimbangan antara FOMO dan JOMO adalah kuncinya. Yang penting adalah kamu bisa mendengarkan diri sendiri dan tahu kapan kamu butuh waktu untuk diri sendiri, dan kapan kamu butuh momen seru bersama teman-teman. Karena yang pasti, hidup itu bukan tentang sekadar ngejar tren, tapi tentang menikmati perjalanan sesuai dengan cara yang bikin kamu bahagia.***













