Daftar Isi
MUDA BELIA- Latihan singkat, panggung langsung panas. Itulah momen yang terjadi di Malahayati Yearfest 2026. Seorang siswi SMK yang baru pertama kali ikut lomba baca puisi justru sukses mencuri perhatian dan bikin banyak penonton merinding.
Namanya Nadini Apriati. Siswi SMK Samudera ini tampil tanpa beban, tapi pulang membawa banyak decak kagum. Debutnya di panggung Lomba Baca Puisi Malahayati Yearfest, Selasa (20/1/2026), langsung membuat suasana lomba berubah jadi hening dan penuh emosi.
Nadini membacakan puisi Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri. Pilihan yang terbilang berani, mengingat karya penyair besar ini dikenal sarat makna dan menuntut penghayatan mendalam. Namun Nadini berhasil membawakan puisi tersebut dengan artikulasi jelas, vokal dalam, dan gestur yang tegas. Banyak penonton mengaku merasakan getaran emosinya hingga merinding.
Yang bikin makin mengejutkan, Nadini ternyata hanya latihan selama dua hari.
“Aku baru pertama kali ikut lomba baca puisi. Latihannya juga cuma dua hari sejak daftar,” kata Nadini usai tampil.
Meski begitu, ia tampil percaya diri. Menurut Nadini, dukungan dari guru, pihak sekolah, yayasan, dan teman-teman menjadi kekuatan utama saat berdiri di atas panggung.
“Aku berterima kasih banget sama teman-teman yang datang langsung, juga guru-guru dan ketua yayasan yang selalu support. Ini pengalaman yang enggak bakal aku lupain,” ujarnya.
Dukungan itu memang terasa nyata. Salma Alika, teman sekelas Nadini, mengaku bangga melihat penampilan sahabatnya.
“Aku support banget Nadini. Semoga dia terus ngembangin bakatnya dan jadi inspirasi buat teman-teman lain di SMK Samudera,” kata Salma.
Hal serupa disampaikan Bulan, teman sekelas lainnya. Ia tak menyangka Nadini bisa tampil sekuat itu di panggung lomba.
“Jujur, enggak kelihatan kayak baru pertama lomba. Penampilannya matang dan berani. Semangat terus, Nadin,” ujarnya.
Pendamping Nadini, Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Bandar Lampung, juga mengaku terkesan dengan penampilan siswinya.
“Latihan kami efektif cuma sekitar dua jam. Tapi di atas panggung, Nadini bisa menyampaikan rasa dengan sangat kuat. Itu tandanya dia serius dan benar-benar mau belajar,” kata Alfariezie.
Menurutnya, sejak awal tidak ada target juara. Fokus utama adalah proses dan keberanian untuk tampil.
“Buat saya, keberanian naik panggung itu sudah jadi kemenangan. Juara itu bonus. Yang penting dia berani mencoba dan menampilkan versi terbaik dirinya,” ujarnya.
Bagi Nadini, pengalaman ini bukan cuma soal lomba atau nilai. Ini tentang mengenal diri sendiri, berani melangkah, dan membuka pintu ke kemungkinan baru.
Penampilan Nadini menjadi bukti bahwa bakat bisa muncul kapan saja, bahkan dari langkah pertama yang penuh keberanian. Dengan niat, latihan, dan dukungan orang-orang sekitar, siapa pun bisa melampaui batas yang sebelumnya terasa mustahil.***












