Daftar Isi
- You might also like
- Hasto–PKS Mulai Panaskan Isu Ijazah Gibran, GEMA PUAN Desak Pemilu Ulang 2027!
- Dr. Budiono Unggul dalam Pilrek Unila, Kantongi 22 Suara Senat dan Dapat Dukungan Habiburokhman
- Dr. Budiono Raih 22 Suara Senat, Persaingan Kursi Rektor Unila Makin Jadi Sorotan
- Satu-Satunya Alumni Asli Unila di Antara Tiga Kandidat
- Jangan Sampai Mahasiswa Putus Kuliah karena UKT
- Aset Kampus Jangan Hanya Jadi Pajangan
- Rekam Jejak dan Cara Berpikir Jadi Pertimbangan
- Harapan Alumni Kini Mengarah ke Menteri
MUDA BELIA- Dukungan untuk Dr. Budiono sebagai calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 semakin menguat. Sejumlah alumni mulai menyuarakan harapan agar sosok yang merupakan lulusan asli Kampus Hijau itu mendapat kepercayaan memimpin Unila.
Bukan sekadar membawa nama almamater, Budiono dinilai memiliki gagasan dan pengalaman untuk mendorong perubahan. Mulai dari memperkuat kemandirian ekonomi kampus, mengoptimalkan aset universitas, hingga memastikan mahasiswa tidak kehilangan kesempatan kuliah hanya karena kesulitan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Sekretaris Dewan Pendidikan sekaligus Ketua UKMBS Unila pertama, Gino Vannolie, menjadi salah satu alumni yang menyampaikan dukungan tersebut.
Gino mengenal Budiono sejak keduanya aktif di UKMBS Unila. Perbedaan angkatan lima tahun membuatnya cukup mengenal karakter dan perjalanan Budiono.
“Budiono punya visi dan misi yang jelas dan kita yakin itu. Berkat kemampuan dia di bidang hukum, kemudian jaringan yang dia miliki, saya sendiri pernah dalam satu komunitas di UKMBS Unila, bahkan saya yang termasuk memplonco dia, karena saya angkatan 88, dia angkatan 93, beda lima tahun,” ujar Gino, Jumat (30/10/2026).
Menurut Gino, Budiono memiliki kombinasi kemampuan yang dibutuhkan seorang pemimpin perguruan tinggi. Ia menyebut integritas, loyalitas, komunikasi intelektual, serta karakter tangguh sebagai sejumlah keunggulan yang dimiliki dosen Hukum Tata Negara tersebut.
“Saya tahu persis karakter Budiono ini cukup tangguh insya Allah untuk kalangan generasi muda dan saya pikir ini harapan baik bagi Unila kalau Dr. Budiono bisa betul-betul terpilih menjadi rektor Unila,” katanya.
Satu-Satunya Alumni Asli Unila di Antara Tiga Kandidat
Ada satu hal yang membuat pencalonan Budiono mendapat perhatian khusus dari kalangan alumni. Dari tiga kandidat yang bersaing, yakni Dr. Budiono, Prof. Warsito, dan Prof. Asep Sukohar, Budiono merupakan satu-satunya yang tercatat sebagai alumni Unila.
Kedekatan dengan almamater itu juga terlihat dari langkahnya merangkul berbagai elemen alumni, baik sebelum pendaftaran maupun setelah resmi menjadi bakal calon rektor.
Sejumlah nama dari berbagai latar belakang disebut ikut memberikan dukungan. Di antaranya Arie Pahala Hutabarat, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, hingga Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman.
Gino menyebut dukungan tersebut menjadi energi tambahan bagi Budiono untuk melangkah lebih jauh dalam proses pemilihan rektor.
“Alhamdulillah perjuangan dan ketangguhan Dr. Budiono membuatnya maju ke tahap yang lebih jauh. Di antara tiga kandidat, dia alumni Unila sendiri, maka itulah dia terus berkomunikasi intens dengan kami para alumni,” tutur Gino.
Pada pemilihan tingkat senat, Kamis (29/10/2026), Budiono memperoleh 22 suara. Perolehan itu menjadi modal penting dalam persaingan menuju kursi Rektor Unila periode 2027–2031.
Meski demikian, Gino memahami bahwa alumni tidak memiliki hak suara langsung dalam mekanisme pemilihan. Karena itu, ia berharap dukungan keluarga besar Unila dapat menjadi pertimbangan bagi Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam menentukan rektor terpilih.
“Walaupun memang alumni ini tidak punya suara, tidak menentukan, apalagi nanti yang punya suara 35 persen adalah Menteri, tentu harapannya support dari para alumni ini menjadi sesuatu yang penting untuk meyakinkan Menteri,” ujarnya.
Jangan Sampai Mahasiswa Putus Kuliah karena UKT
Salah satu gagasan Budiono yang paling mendapat perhatian adalah komitmennya memperjuangkan agar tidak ada mahasiswa Unila yang harus menghentikan pendidikan karena tidak mampu membayar UKT.
Bagi Budiono, mahasiswa bukan sekadar penerima layanan pendidikan. Mereka merupakan bagian utama dari kehidupan universitas yang harus mendapat perhatian dan kesempatan berkembang.
“Jangan sampai ada sejarahnya Unila memberhentikan mahasiswa karena tak mampu bayar UKT. Dzolim kalau sampai ada mahasiswa yang putus kuliah karena tidak mampu bayar UKT,” tegasnya.
Gagasan itu tidak berhenti pada pernyataan. Dalam pemaparan visi dan misi, Rabu (28/10/2026), Budiono mengajak Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unila membuat program pendataan mahasiswa yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan di setiap fakultas.
Dengan cara tersebut, alumni bisa mengetahui secara langsung mahasiswa yang membutuhkan dukungan agar dapat menyelesaikan kuliahnya.
“Kalau bisa saya berharap betul IKA itu mendata ke tiap fakultas mana adik-adik kita yang memang perlu kita bantu untuk menyelesaikan kuliahnya sehingga kita benar-benar berdampak seperti apa kata Presiden,” ungkapnya.
Budiono juga punya cara pandang menarik tentang bantuan pendidikan. Baginya, membantu lima mahasiswa menyelesaikan kuliah bukanlah perkara kecil.
Bayangkan jika kelima mahasiswa tersebut kelak menjadi pengusaha besar, pemimpin lembaga advokasi, atau menduduki jabatan strategis. Mereka berpeluang kembali membantu adik-adik tingkatnya dan memberikan kontribusi lebih besar bagi kampus.
Artinya, bantuan pendidikan hari ini bisa menjadi investasi sumber daya manusia untuk masa depan Unila.
Aset Kampus Jangan Hanya Jadi Pajangan
Selain persoalan UKT, Budiono juga mendorong optimalisasi aset universitas sebagai sumber pendapatan baru.
Ia menyoroti sejumlah aset Unila yang tersebar di beberapa wilayah, mulai dari Kota Baru di Lampung Selatan, Bandar Lampung, Lampung Timur, hingga Lampung Barat.
Menurutnya, aset tersebut harus dikelola secara produktif dengan melibatkan investor dan memanfaatkan keahlian para alumni dari berbagai bidang.
Dengan pengelolaan yang tepat, aset kampus berpeluang menghasilkan sumber pendapatan baru sehingga Unila tidak terus bergantung pada UKT.
“Itu aset kan perlu investor dan perlu kita berdayakan berdasarkan intelektualitas sehingga bisa menghasilkan pendanaan baru bagi kemandirian ekonomi kampus sehingga tidak bergantung pada UKT,” ujarnya.
Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lampung Barat, Syafaruddin, yang juga merupakan alumni Unila.
Ia menilai strategi Budiono menunjukkan cara berpikir seorang pemimpin yang tidak hanya fokus pada persoalan hari ini, tetapi juga memikirkan sumber daya dan peluang untuk masa depan kampus.
“Wah itu strategi yang top dan memang seorang pemimpin harus berpikir demikian, berpikir segala cara tanpa memotong regulasi demi kemajuan bersama,” kata Syafaruddin.
Rekam Jejak dan Cara Berpikir Jadi Pertimbangan
Dukungan lain datang dari Budiharjo, mantan jurnalis Lampung Post yang kini berprofesi sebagai dosen sekaligus alumni Unila.
Budiharjo mengaku pernah bekerja bersama Budiono ketika keduanya menjadi tenaga ahli Gubernur Lampung. Saat itu, Budiharjo menangani bidang politik, sedangkan Budiono bertugas di bidang hukum.
Dari pengalaman bekerja dan berdiskusi bersama, Budiharjo melihat Budiono sebagai sosok yang terbuka terhadap masukan. Ia juga menilai Budiono tidak hanya berpikir dari sudut pandang birokrasi, tetapi turut mempertimbangkan dampak kebijakan bagi masyarakat.
“Waktu jadi tenaga ahli kita sering berdiskusi untuk kemajuan Provinsi Lampung. Beliau terbuka terhadap masukan dan selalu berpikir bagaimana regulasi itu bukan hanya untuk kepentingan daerah, tapi bagaimana regulasi itu tidak memberatkan dan menjerat masyarakat dalam pembangunan,” tutur Budiharjo.
Menurutnya, pola pikir tersebut menjadi modal penting jika diterapkan dalam memimpin perguruan tinggi, terutama dalam merancang kebijakan yang berpihak kepada mahasiswa.
Contohnya terlihat dalam gagasan Budiono mengenai peningkatan fasilitas pembelajaran. Ia menyebut telah menyediakan komputer dan televisi digital di ruang-ruang kelas Fakultas Hukum Unila untuk mendukung proses belajar yang lebih interaktif.
“Di Fakultas Hukum itu tiap ruangan saya sudah berikan komputer, televisi supaya pembelajaran itu bisa berlangsung baik dan mahasiswa bisa menikmati juga. Bukan hanya peminjaman, tapi di ruang-ruang kelas itu sudah tersedia komputer dan televisinya. Jadi saya sangat selalu membela kepentingan mahasiswa karena kalau tidak ada mahasiswa bagaimana universitas ini juga bisa berdiri,” tegas Budiono.
Harapan Alumni Kini Mengarah ke Menteri
Dukungan alumni, gagasan kemandirian ekonomi, perhatian terhadap mahasiswa, hingga optimalisasi aset menjadi sejumlah isu yang mengiringi pencalonan Dr. Budiono.
Bagi Gino Vannolie dan sejumlah alumni yang menyuarakan dukungan, pemilihan rektor bukan hanya soal siapa yang menduduki jabatan tertinggi di universitas.
Lebih dari itu, keputusan tersebut menyangkut arah masa depan Unila, kualitas pendidikan, kesempatan mahasiswa menyelesaikan kuliah, serta kemampuan kampus membangun kekuatan ekonomi secara mandiri.
Kini, mereka berharap Mendiktisaintek mendengar aspirasi keluarga besar Unila dan mempertimbangkan rekam jejak serta gagasan para kandidat sebelum menentukan pemimpin kampus untuk periode 2027–2031.***






