Daftar Isi
- You might also like
- Puluhan Kepala SMK Swasta Lampung “Gaspol” ke Yogyakarta, Bawa Misi Besar untuk Pendidikan Vokasi
- Bukan Penguasa Lagi, Tapi Jokowi Masih Punya Magnet yang Bikin Lawan Geleng Kepala
- Sekda Lampung Tengah Jadi Tersangka, Praktisi Hukum: Demi Good Governance Sebaiknya Dinonaktifkan Sementara
- Publik Tak Hanya Bicara Soal Pekerjaan
- Aksi Pelajar Jadi Sorotan
- Pemerintah Pilih Fokus Berbenah
- MBG Harus Tetap Mulia
MUDA BELIA– Polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) makin panas. Setelah pemerintah memutuskan melakukan evaluasi dan penghentian sementara di sejumlah titik usai muncul kasus dugaan korupsi yang menyeret petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) serta beberapa vendor, gelombang dukungan terhadap program tersebut justru bermunculan dari berbagai daerah.
Salah satu yang paling menyita perhatian terjadi di kawasan Tugu Adipura Kota Bandar Lampung, Senin (22/6/2026). Ratusan relawan dan pekerja SPPG turun ke jalan menyuarakan harapan agar program MBG tetap dilanjutkan.
Bagi sebagian besar peserta aksi, MBG bukan sekadar program pemerintah. Program ini dianggap menjadi sumber penghasilan baru yang membantu ekonomi keluarga.
Salah satu momen yang paling menyentuh perhatian publik adalah ketika seorang single mom naik ke atas mobil komando dan menyampaikan pengalamannya.
Dengan suara lantang, ia mengaku kehidupan keluarganya jauh lebih terbantu sejak bekerja dalam program MBG.
“Saya seorang single mom yang punya dua anak yatim. Sejak ada MBG, Alhamdulillah ekonomi keluarga kami terbantu. Saya berharap program ini tetap dilanjutkan,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta aksi.
Tak hanya dari Bandar Lampung, sejumlah relawan mengaku datang dari berbagai kabupaten di Lampung. Mereka khawatir evaluasi program yang terlalu lama akan berdampak pada pendapatan mereka sehari-hari.
Publik Tak Hanya Bicara Soal Pekerjaan
Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai persoalan MBG saat ini bukan hanya soal nasib pekerja dan pemilik SPPG.
Publik juga sedang mempertanyakan bagaimana pengelolaan anggaran negara yang nilainya sangat besar tersebut.
CEO Promedia, Eko Sulistyono, menilai langkah pemerintah melakukan evaluasi justru merupakan tindakan yang wajar.
Menurutnya, dalam dunia usaha, ketika sebuah produk mulai menuai banyak kritik, perusahaan biasanya menghentikan sementara operasional untuk mencari sumber masalah sebelum kembali berjalan.
Baginya, yang saat ini dibutuhkan bukan saling menyalahkan, melainkan memastikan program MBG benar-benar berjalan sesuai tujuan awal, yaitu meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.
Aksi Pelajar Jadi Sorotan
Di tengah ramainya demonstrasi dukungan MBG, muncul pula kontroversi dari aksi yang terjadi di Batam.
Sejumlah murid SD dan SMP terlihat membawa spanduk dalam kegiatan yang berkaitan dengan dukungan terhadap program MBG.
Namun beberapa orang tua mengaku terkejut ketika mengetahui anak-anak mereka ternyata berada dalam kegiatan yang bernuansa demonstrasi.
Sebagian wali murid mengaku sebelumnya hanya menerima informasi bahwa anak-anak akan mengikuti kegiatan pawai atau jalan santai.
Komentar para orang tua pun ramai bermunculan di media sosial.
Mereka mempertanyakan keterlibatan anak-anak dalam isu yang dianggap sebagai persoalan kebijakan publik dan politik.
Pemerintah Pilih Fokus Berbenah
Sementara itu, pemerintah menegaskan bahwa evaluasi MBG dilakukan untuk memperbaiki berbagai temuan di lapangan.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebelumnya menyebut jumlah SPPG yang berkembang di lapangan bahkan melampaui target awal pemerintah.
Karena itu, pemerintah ingin memastikan seluruh pelaksanaan program berjalan sesuai standar, mulai dari kualitas makanan, distribusi, pengawasan anggaran, hingga keamanan pangan.
MBG Harus Tetap Mulia
Pada akhirnya, perdebatan soal MBG memperlihatkan dua realitas yang sama-sama penting.
Di satu sisi, ada ribuan pekerja dan relawan yang menggantungkan penghasilan dari program tersebut.
Di sisi lain, masyarakat juga menuntut transparansi, pengawasan ketat, dan jaminan bahwa setiap rupiah anggaran negara benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.
Karena itu, evaluasi menyeluruh menjadi momentum penting agar Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya besar dari sisi anggaran, tetapi juga benar-benar memberikan manfaat nyata bagi generasi masa depan bangsa.***






