Daftar Isi
- You might also like
- Ketika Ruang Sidang Mendadak Hening: Permohonan Budi Kurniawan untuk Nasib Karyawan PT LEB
- Pengajuan Justice Collaborator Sony Sanjaya Dinilai Bisa Jadi Kunci Bongkar Dugaan Korupsi MBG
- Heri Wardoyo Minta Dibebaskan di Kasus PI 10 Persen: “Saya Hanya Ingin Pulang dan Berkumpul dengan Keluarga”
- Kecaman Negara Adidaya
- Korea Utara Ikut Memanaskan Situasi
- Minyak Jadi Sorotan
- Dampak Global dan Lokal
MUDA BELIA— Dunia lagi panas nih setelah Amerika Serikat secara resmi menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, Sabtu malam WIB (3 Januari 2026). Aksi ini langsung bikin geger internasional karena AS dituduh melakukan agresi militer terbuka, sementara banyak negara adidaya langsung bereaksi keras.
Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, menyatakan pihaknya mengecam keras langkah AS dan menyebut Presiden Maduro sudah mengaktifkan sistem pertahanan penuh. Rusia menilai operasi ini sebagai pelanggaran berat hukum internasional yang bisa bikin preseden buruk bagi stabilitas global.
Kecaman Negara Adidaya
Setelah Rusia, China juga ikut bereaksi. Beijing menegaskan tindakan AS melanggar hukum internasional dan menekankan agar Washington mematuhi Piagam PBB. “China sangat terkejut dan dengan tegas mengutuk penggunaan kekuatan secara terang-terangan oleh AS terhadap negara berdaulat serta tindakan terhadap presidennya,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, dikutip dari Anadolu.
Menurut China, tindakan AS mengancam perdamaian di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Hal ini menandakan kalau operasi ini bukan sekadar soal penangkapan individu, tapi punya dampak geopolitik yang luas.
Korea Utara Ikut Memanaskan Situasi
Di sisi lain, Korea Utara meluncurkan dua rudal balistik ke perairan antara Korea dan Jepang pada Minggu (1 Januari 2025). Belum jelas apakah ini respon langsung terhadap penangkapan Maduro atau terkait kunjungan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung ke China. Yang pasti, peluncuran rudal terjadi hanya beberapa jam setelah operasi AS berlangsung.
Minyak Jadi Sorotan
Menurut anggota Kongres Demokrat AS, Jase Auchincloss, operasi ini sebenarnya lebih soal minyak daripada narkoba. “Ini pertumpahan darah demi minyak, tidak berhubungan perdagangan narkoba. Trump menepati janji kampanye kepada perusahaan minyak besar AS, termasuk Chevron,” ujarnya.
Trump juga memastikan bahwa cadangan minyak Venezuela akan dikelola ulang oleh perusahaan-perusahaan AS. “Kita akan meminta perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” katanya, dikutip NY Times.
Dampak Global dan Lokal
Operasi ini bikin ketegangan internasional makin tinggi. Rusia dan China menyebutnya pelanggaran kedaulatan, sementara negara-negara Amerika Latin menyoroti potensi konflik regional. Langkah AS juga menghidupkan perdebatan soal dominasi ekonomi, energi, dan kepentingan politik di wilayah strategis.
Pengamat internasional menekankan pentingnya diplomasi multilateral untuk menahan eskalasi konflik dan memastikan kepentingan energi, keamanan, dan stabilitas politik tetap seimbang.***













