Daftar Isi
- You might also like
- Dr. Budiono Ingin Unila Lebih Dekat dengan Alumni, Bukan Cuma Dicari saat Butuh
- Bukan Cuma Teori, BNNK Lampung Selatan Ajak Pelajar Jadi Garda Depan Lawan Narkoba
- Wartawan Senior Nelson Diduga Diintimidasi, PRO RAKYAT Desak Kapolda Lampung Bergerak
- Unila Punya Sejarah Panjang, Tantangannya Ada di Masa Depan
- Alumni Jangan Cuma Diingat Saat Ada Acara Kampus
- Kampus Harus Hadir Saat Masyarakat Membutuhkan Solusi
- Mau Membawa Perubahan? Dengarkan Dulu Suara Kampus
- Unila Go Beyond, Jangan Berhenti Jadi Slogan
- Bangga Jadi Bagian dari Unila, Bukan Sekadar Nostalgia
- Masa Depan Unila Bukan Cuma Urusan Rektor
MUDA BELIA- Dari memperkuat koneksi alumni hingga menjawab persoalan masyarakat, gagasan Unila Go Beyond mengajak Universitas Lampung melangkah lebih jauh dan makin dekat dengan rakyat.
Kampus bukan cuma tempat kuliah, mengejar gelar, lalu lulus dan mencari pekerjaan. Lebih dari itu, kampus punya peran penting dalam membangun masa depan daerah, melahirkan inovasi, dan membantu masyarakat menemukan solusi atas berbagai persoalan.
Semangat inilah yang kembali menjadi sorotan menjelang pemilihan rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031. Dr. Budiyono, S.H., M.H., akademisi Fakultas Hukum Unila sekaligus alumnus kampus tersebut, membawa gagasan yang dikemas dalam semangat Unila Go Beyond.
Intinya sederhana, tetapi punya makna besar: Unila harus berani melangkah lebih jauh, tidak cepat puas dengan pencapaian yang ada, serta memperluas manfaatnya bagi mahasiswa, alumni, dan masyarakat Lampung.
Pertanyaannya, bagaimana sebuah kampus bisa makin relevan dengan kebutuhan zaman dan tetap dekat dengan masyarakat yang ikut memperjuangkan kelahirannya?
Unila Punya Sejarah Panjang, Tantangannya Ada di Masa Depan
Kalau membicarakan Unila hari ini, kita tidak bisa melupakan perjalanan panjang yang mengantarkan kampus ini berdiri.
Universitas Lampung lahir dari perjuangan berbagai tokoh dan elemen masyarakat yang menginginkan pendidikan tinggi tersedia di daerah sendiri. Gerakan perintisannya mulai berkembang pada 1959 hingga akhirnya Unila resmi berdiri pada 23 September 1965.
Pada masa itu, kehadiran perguruan tinggi di Lampung menjadi harapan agar generasi muda memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenyam pendidikan tanpa harus selalu pergi jauh dari daerah asal.
Artinya, sejak awal Unila dibangun bukan hanya untuk menjadi institusi akademik, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Kini, setelah lebih dari enam dekade, tantangannya tentu semakin kompleks. Perkembangan teknologi, persaingan dunia kerja, perubahan kebutuhan industri, hingga persoalan pembangunan daerah menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi.
Unila tidak cukup hanya menjaga apa yang sudah dicapai. Kampus juga perlu memastikan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan kualitas lulusannya mampu menjawab kebutuhan masa kini.
Di sinilah semangat Go Beyond mendapat relevansinya: menghargai sejarah, tetapi tidak berhenti di masa lalu.
Alumni Jangan Cuma Diingat Saat Ada Acara Kampus
Salah satu hal yang menjadi perhatian Budiyono adalah bagaimana Unila bisa membangun hubungan yang lebih kuat dengan para alumninya.
Coba bayangkan, berapa banyak lulusan Unila yang kini berkiprah di pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, hukum, penelitian, hingga berbagai organisasi masyarakat? Mereka membawa pengalaman, pengetahuan, dan jaringan profesional yang bisa menjadi modal besar bagi kemajuan almamater.
Namun, potensi tersebut akan sulit berkembang jika hubungan alumni dan kampus hanya sebatas reuni, undangan seremonial, atau komunikasi ketika ada kepentingan tertentu.
Alumni seharusnya bisa menjadi mitra strategis dalam pengembangan universitas.
Misalnya, alumni yang bekerja di perusahaan dapat membantu membuka kesempatan magang bagi mahasiswa. Mereka yang berkiprah di dunia profesional bisa berbagi pengalaman tentang kebutuhan industri. Alumni yang menjadi peneliti dapat membangun kolaborasi riset, sedangkan mereka yang berkecimpung dalam pengembangan daerah dapat membantu menghubungkan hasil penelitian kampus dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan pola seperti ini, hubungan antara kampus dan alumni tidak berhenti pada rasa bangga terhadap almamater. Ada kontribusi nyata yang bisa dirasakan kedua belah pihak.
Gagasan Budiyono untuk memperkuat komunikasi dengan alumni dapat menjadi pintu masuk menuju kolaborasi yang lebih terstruktur. Tantangannya adalah bagaimana membangun sistem yang terbuka, berkelanjutan, dan memberi ruang bagi alumni dari berbagai latar belakang.
Kampus Harus Hadir Saat Masyarakat Membutuhkan Solusi
Perguruan tinggi tidak boleh hanya sibuk dengan urusan internal. Ada persoalan di luar pagar kampus yang membutuhkan perhatian dan kontribusi nyata.
Lampung, misalnya, menghadapi beragam tantangan dalam pengembangan UMKM, pertanian, pendidikan, lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga pelayanan publik. Semua itu membutuhkan pengetahuan, inovasi, penelitian, dan kerja sama berbagai pihak.
Unila memiliki sumber daya akademik yang dapat ikut menjawab tantangan tersebut.
Dosen dan mahasiswa bisa melakukan penelitian berdasarkan kebutuhan masyarakat, mengembangkan teknologi tepat guna, mendampingi pelaku usaha kecil, atau menyusun kajian ilmiah untuk membantu pemerintah daerah mengevaluasi kebijakan.
Kolaborasi juga dapat dibangun bersama komunitas, dunia usaha, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil.
Hal ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Dengan kata lain, keberhasilan kampus bukan cuma soal berapa banyak mahasiswa yang lulus atau berapa banyak kegiatan akademik yang digelar. Salah satu ukuran pentingnya adalah sejauh mana pengetahuan yang dihasilkan benar-benar bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
Inilah salah satu makna penting dari kampus yang ingin Go Beyond: tidak berhenti pada teori, tetapi berusaha menghadirkan solusi.
Mau Membawa Perubahan? Dengarkan Dulu Suara Kampus
Perubahan besar tidak bisa dibangun hanya berdasarkan gagasan satu orang. Apalagi universitas merupakan institusi yang memiliki banyak unsur, mulai dari dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, hingga masyarakat yang menjadi mitranya.
Budiyono telah membuka ruang diskusi dan menerima masukan dari alumni, dosen, mantan dosen, serta berbagai kalangan untuk membicarakan kondisi dan masa depan Unila.
Langkah berdialog seperti ini penting karena setiap kelompok memiliki pengalaman dan kebutuhan berbeda.
Dosen mungkin memiliki perhatian terhadap kualitas pembelajaran, penelitian, dan pengembangan karier akademik. Mahasiswa membutuhkan lingkungan belajar yang mendukung prestasi dan kesiapan menghadapi dunia kerja. Alumni dapat menyampaikan perspektif tentang hubungan kampus dengan dunia profesional, sedangkan masyarakat memiliki harapan terhadap kontribusi universitas bagi pembangunan daerah.
Namun, mendengar saja belum cukup.
Masukan yang terkumpul perlu dipetakan, diprioritaskan, lalu diterjemahkan menjadi program yang realistis. Setiap program juga membutuhkan target yang jelas dan evaluasi berkala agar hasilnya bisa diukur.
Dengan begitu, dialog bukan sekadar kegiatan bertukar pikiran, melainkan bagian dari proses membangun perubahan yang lebih terarah.
Unila Go Beyond, Jangan Berhenti Jadi Slogan
Nama Unila Go Beyond terdengar ringkas dan mudah diingat. Namun, tantangan sesungguhnya bukan pada slogan, melainkan pada bagaimana gagasan itu diwujudkan.
Go Beyond bisa berarti memperbaiki pelayanan akademik, meningkatkan kualitas riset, memperkuat transparansi tata kelola, memperluas kemitraan, dan memastikan mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Bagi mahasiswa, semangat ini seharusnya terasa melalui lingkungan akademik yang mendukung kreativitas, kesempatan berkembang, dan akses terhadap pengalaman profesional.
Bagi dosen, semangat tersebut perlu diterjemahkan menjadi dukungan terhadap penelitian, inovasi, kolaborasi, dan pengembangan keilmuan.
Bagi alumni, Go Beyond dapat membuka jalan untuk kembali terhubung dengan almamater dan mengambil bagian dalam pengembangan kampus.
Sementara bagi masyarakat, manfaatnya harus terlihat melalui kontribusi nyata universitas dalam membantu menjawab persoalan daerah.
Karena itu, gagasan ini perlu disertai program kerja, indikator keberhasilan, dan mekanisme evaluasi yang terbuka. Tanpa langkah konkret, slogan yang menarik akan sulit meninggalkan dampak jangka panjang.
Bangga Jadi Bagian dari Unila, Bukan Sekadar Nostalgia
Rasa bangga terhadap almamater tidak muncul begitu saja. Kebanggaan tumbuh ketika mahasiswa mendapatkan pendidikan berkualitas, dosen memiliki ruang untuk berkembang, alumni melihat kampusnya terus maju, dan masyarakat merasakan manfaat keberadaan universitas.
Hubungan yang baik antara kampus dan alumni juga tidak berarti semua pihak harus selalu sepakat. Kritik dan masukan justru dapat menjadi bagian penting dari proses perbaikan, selama disampaikan secara konstruktif dan ditindaklanjuti dengan terbuka.
Sebagai alumnus, Budiyono membawa gagasan untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi di lingkungan Unila. Upaya tersebut dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pandangan tentang masa depan kampus.
Namun, gagasan yang baik tetap perlu diuji melalui pelaksanaan dan hasilnya. Program harus realistis, sesuai kebutuhan sivitas akademika, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, mencintai almamater bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Justru sebaliknya, rasa memiliki tumbuh ketika semua pihak bersedia menjaga, mengkritisi, dan memperbaiki kampus bersama-sama.
Masa Depan Unila Bukan Cuma Urusan Rektor
Menjelang pemilihan rektor periode 2027–2031, berbagai gagasan mengenai masa depan Unila menjadi bagian penting dari diskusi publik. Semangat Unila Go Beyond yang dibawa Budiyono menawarkan perhatian pada penguatan alumni, kedekatan dengan masyarakat, dan pengembangan kontribusi kampus.
Namun, kemajuan universitas tidak bergantung pada satu sosok saja. Perubahan membutuhkan kerja bersama, tata kelola yang baik, keterlibatan sivitas akademika, serta dukungan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan tinggi di Lampung.
Warisan para pendiri Unila memberikan fondasi sejarah. Alumni membawa pengalaman dan jaringan. Dosen serta mahasiswa menjadi penggerak utama kehidupan akademik. Sementara masyarakat menjadi mitra penting dalam memastikan ilmu pengetahuan memberikan manfaat nyata.
Unila punya sejarah yang layak dibanggakan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kampus ini terus relevan dengan kebutuhan generasi sekarang dan generasi mendatang.
Sebab, kampus yang hebat bukan hanya kampus yang namanya dikenal luas, tetapi juga kampus yang kehadirannya benar-benar dirasakan.
Jika Unila Go Beyond ingin menjadi lebih dari sekadar slogan, langkahnya perlu dimulai dari hal-hal konkret: mendengar, berkolaborasi, memperbaiki tata kelola, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, mengembalikan Unila ke hati masyarakat bukan sekadar soal membangun kedekatan emosional. Ini tentang memastikan bahwa cita-cita para perintis tetap hidup melalui pendidikan berkualitas, ilmu pengetahuan yang bermanfaat, dan kontribusi nyata bagi Lampung.***







