Daftar Isi
- You might also like
- Dr. Budiono Raih 22 Suara Senat, Persaingan Kursi Rektor Unila Makin Jadi Sorotan
- Baru 3 Tahun Belajar Silat, Sultoni Murid SMK Samudera Langsung Gaspol Raih Medali Emas!
- IBN Pringsewu Hadirkan Pakar AI dari Malaysia, Mahasiswa Diingatkan Jangan Asal Pakai ChatGPT!
- Bukan Cuma Mengandalkan UKT
- Tanah Hibah Bisa Jadi Peluang Baru
- Pendidikan Harus Tetap Jadi Prioritas
MUDA BELIA— Biaya kuliah jangan sampai menjadi tembok penghalang bagi mahasiswa untuk meraih masa depan. Pesan tegas itu disampaikan Bakal Calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031, Dr. Budiono, saat menanggapi keresahan mahasiswa terkait pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT).
“Tidak boleh ada sejarah di Universitas Lampung orang tidak bisa kuliah karena tidak bayar UKT. Dzolim kalau ada mahasiswa putus kuliah karena tidak bayar UKT,” tegas Budiono, Rabu, 28 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Budiono menjawab pertanyaan Fajar Irawan, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila, dalam forum yang dihadiri lima kandidat bakal calon rektor.
Di antara kandidat yang hadir terdapat Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, Dekan FISIP Unila.
Bagi Budiono, mahasiswa bukan sekadar penerima kebijakan kampus. Mereka merupakan bagian penting dari universitas yang harus mendapatkan ruang, perhatian, dan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan tanpa terkendala persoalan biaya.
“Saya selalu mengatakan mahasiswa itu bukan semata sebagai objek tapi sebagai subjek, menjadi pusat, menjadi mitra kita, kita Universitas,” ujar dosen hukum tata negara tersebut.
Bukan Cuma Mengandalkan UKT
Budiono menilai Unila perlu memperkuat kemandirian ekonomi agar memiliki kemampuan lebih besar dalam mendukung kebutuhan pendidikan mahasiswa.
Caranya, kampus tidak bisa hanya bergantung pada pembayaran UKT. Berbagai potensi pendapatan lain harus digali, termasuk dengan mengoptimalkan aset yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Dalam forum tersebut, Budiono menyinggung tanah di kawasan Sukadanaham, Bandar Lampung, yang menurut ingatannya merupakan hibah dari Prof. Muhajir.
Ia melihat aset tersebut memiliki potensi strategis, terlebih kawasan di sekitarnya terus berkembang dengan munculnya berbagai kompleks perumahan.
“Kalau saya tidak salah, Prof. Muhajir pernah menghibahkan tanah di Sukadanaham. Itu kalau tidak dimanfaatkan, saya pernah ngomong dengan Rektor sebelumnya, ini kalau tidak dimanfaatkan ini akan hilang karena di sekitarnya sudah tumbuh perumahan-perumahan yang cepat sekali,” ungkapnya.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa aset kampus tidak cukup hanya tercatat dalam administrasi. Aset juga perlu dipetakan, dikaji, dan dikelola agar memberikan manfaat nyata bagi pengembangan universitas.
Tanah Hibah Bisa Jadi Peluang Baru
Menurut Budiono, kemandirian ekonomi Unila harus dibangun dengan memaksimalkan seluruh sumber daya strategis yang dimiliki. Tanah hibah di Sukadanaham menjadi salah satu aset yang perlu mendapat perhatian serius.
Jika memungkinkan secara hukum dan berdasarkan kajian kelayakan, pemanfaatan aset tersebut dapat diarahkan untuk menghasilkan pendapatan alternatif bagi universitas.
“Kalau tidak dimanfaatkan ini akan hilang, ini aset yang sangat strategis kalau bisa kita yang manfaatkan untuk menambah sumber pendapatan selain UKT,” tuturnya.
Gagasan ini berangkat dari persoalan mendasar yang disampaikan Fajar: bagaimana kampus bisa semakin mandiri secara ekonomi sehingga mahasiswa tidak kehilangan kesempatan kuliah hanya karena kesulitan membayar UKT.
Budiono menilai pengelolaan aset secara produktif dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas keuangan universitas. Namun, pemanfaatannya tetap perlu memperhatikan status kepemilikan, ketentuan hukum, serta perencanaan yang matang.
Pendidikan Harus Tetap Jadi Prioritas
Bagi Budiono, persoalan UKT bukan semata-mata soal administrasi pembayaran. Ada masa depan mahasiswa yang harus menjadi perhatian utama universitas.
Karena itu, pengembangan sumber pendapatan di luar UKT dinilai penting agar Unila memiliki lebih banyak pilihan dalam menopang pembiayaan pendidikan.
Optimalisasi aset strategis, termasuk tanah hibah di Sukadanaham, menjadi salah satu gagasan yang ia soroti dalam forum kandidat rektor tersebut.
Pesannya jelas: aset kampus harus dikelola dengan baik, potensi pendapatan perlu dikembangkan, dan mahasiswa tetap harus menjadi pusat perhatian.
Sebab, jangan sampai persoalan biaya membuat mahasiswa kehilangan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan tinggi.
(*)







