Daftar Isi
- You might also like
- Dr. Budiono Bertemu Parosil, Bukan Tak Mungkin Unila Buka Kampus B seperti di Way Kanan
- Dekat dengan Parosil Mabsus, Dr. Budiono Buka Peluang Kolaborasi Unila dan Lampung Barat
- Bukan Cuma Kampus, Unila Harus Punya Dampak! Budiyono Bawa Semangat Go Beyond untuk Lampung
- Tiga modal Dr. Budiono menurut Habiburokhman
- Bukan cuma soal kampus, tetapi juga dampak bagi masyarakat
- Tantangan Unila di tengah persaingan kampus
MUDA BELIA– Persaingan menuju kursi Rektor Universitas Lampung (Unila) mulai menjadi perhatian sejumlah alumni. Salah satunya Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman yang secara terbuka menyampaikan dukungan kepada Dr. Budiono.
Bagi Habiburokhman, memilih rektor bukan sekadar menentukan siapa yang memimpin kampus selama beberapa tahun ke depan. Lebih dari itu, keputusan tersebut ikut menentukan arah pengembangan Unila, reputasi akademik, hingga seberapa besar kampus bisa memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Alumni Fakultas Hukum Unila angkatan 1999 itu menyampaikan pandangannya pada Rabu (21/10/2026). Ia mengaku bangga pernah menempuh pendidikan di Unila sebelum membangun karier di Jakarta dan bersaing dengan lulusan dari berbagai perguruan tinggi.
“Dari suara hati seorang alumni, izinkan saya menyampaikan suara hati selaku alumni Unila. Sebagai alumni yang sejak lulus dan langsung bertempur di Jakarta saya bangga sekali dengan almamater Unila yang menjadikan saya bisa bersaing dengan alumni dari kampus lain,” tutur Habiburokhman.
Menurutnya, Unila membutuhkan pemimpin yang bukan hanya kuat secara akademik, tetapi juga matang dalam mengambil keputusan, mampu merangkul banyak pihak, dan punya rekam jejak yang jelas.
“Pemilihan rektor momentum penting Unila menentukan arah dan marwah krusial. Unila butuh pemimpin yang matang secara karakter dan teruji kapasitasnya,” ungkapnya.
Atas pertimbangan itu, Habiburokhman mengajak anggota senat dan pemilik suara untuk mempertimbangkan Dr. Budiono dalam pemilihan rektor.
“Untuk itu dengan kerendahhatian, saya menyerukan Bapak Ibu mendukung Dr. Budiono selaku rektor,” tegasnya.
Habiburokhman memaparkan tiga hal yang menurutnya menjadi kekuatan Budiono. Pertama, karakter kepemimpinan yang rendah hati dan mampu merangkul seluruh elemen kampus.
Baginya, kampus tidak bisa berjalan hanya dengan keputusan dari atas. Dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan perlu memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan, kritik, serta kebutuhan mereka.
“Ada tiga alasan kuat mengapa Dr. Budiono adalah alasan tepat pilihan Unila saat ini. Pertama, kepemimpinan rendah hati yang mengayomi. Sejak mahasiswa hingga sekarang beliau dikenal sebagai sosok yang inklusif, mau mendengar dan selalu merangkul elemen sivitas akademika mulai dari dosen, tenaga pendidikan maupun mahasiswa tanpa sekat,” ujarnya.
Habiburokhman juga menilai Budiono memiliki tim kerja yang solid dan harmonis. Menurutnya, kekompakan tim menjadi salah satu modal untuk menjaga stabilitas kampus dan menjalankan program secara konsisten.
“Itulah kunci stabilitas kampus,” katanya.
Kedua, etos kerja dan kemampuan menuntaskan persoalan. Habiburokhman menilai Budiono memiliki orientasi pada pelaksanaan program dan penyelesaian masalah, bukan berhenti pada pembahasan atau wacana.
“Kedua, etos kerjanya tinggi. Rekam jejak beliau membuktikan dedikasi seorang pekerja keras yang fokus pada eksekusi nyata dan penyelesaian masalah secara tuntas, bukan sekadar wacana,” tuturnya.
Ketiga, jejaring nasional dan global. Dalam dunia pendidikan tinggi yang makin kompetitif, kolaborasi dengan kementerian, lembaga negara, dunia industri, dan mitra internasional dinilai dapat membuka peluang pengembangan riset, pendanaan, serta peningkatan reputasi kampus.
“Ketiga, Dr. Budiono punya jejaring nasional dan global yang kuat,” kata Habiburokhman.
Ia berpandangan, jaringan tersebut bisa menjadi modal strategis jika dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama dan mempercepat pengembangan Unila. Namun, hasilnya tetap bergantung pada program, tata kelola, dan implementasi yang dijalankan oleh kepemimpinan kampus.
Bukan cuma soal kampus, tetapi juga dampak bagi masyarakat
Selain urusan akademik, gagasan mendekatkan Unila dengan masyarakat menjadi salah satu isu yang ikut disorot dalam dukungan terhadap Budiono.
Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar dan menghasilkan lulusan, tetapi juga hadir membantu menyelesaikan persoalan di daerah melalui riset, advokasi, inovasi, dan kolaborasi dengan dunia usaha.
Dalam konteks tersebut, hilirisasi industri dan penguatan kerja sama dengan alumni dipandang sebagai peluang agar pengetahuan dari kampus bisa memberi manfaat yang lebih luas.
Sebelumnya, Budiono juga disebut menjalin komunikasi dengan alumni Unila dari beragam latar belakang. Pada Jumat (16/10/2026), ia bertemu dengan alumni yang berkiprah sebagai kepala sekolah, Staf Ahli DPD RI, Sekretaris Dewan Pendidikan Lampung, serta Ari Pahala Hutabarat, peraih Penghargaan Sastra Khatulistiwa.
Pertemuan dengan alumni menjadi salah satu ruang untuk membicarakan kontribusi perguruan tinggi terhadap kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah.
Budiono juga disebut bertemu dengan Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus. Pertemuan tersebut memunculkan peluang pembahasan sinergi antara pemerintah daerah dan Unila, termasuk gagasan mendekatkan akses pendidikan tinggi kepada masyarakat di daerah.
Parosil, berdasarkan pernyataan yang dikutip dalam naskah ini, menilai Budiono memiliki pengalaman dalam kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat, khususnya dalam proses asesmen jabatan pimpinan tinggi pratama.
“Budiono merupakan salah satu asesor yang telah berkolaborasi dengan Pemkab Lampung Barat lebih dari tujuh tahun untuk menentukan Jabatan Tinggi Pratama,” demikian pernyataan Parosil yang dikutip dalam naskah tersebut.
Tantangan Unila di tengah persaingan kampus
Unila menghadapi tantangan untuk terus memperkuat kualitas akademik, riset, inovasi, serta relevansinya bagi pembangunan Lampung. Kehadiran perguruan tinggi lain, termasuk Institut Teknologi Sumatera (ITERA), turut membuat persaingan pendidikan tinggi di wilayah ini semakin dinamis.
Dalam situasi tersebut, kepemimpinan rektor akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan strategi pengembangan kampus. Rekam jejak, kemampuan membangun kolaborasi, dan visi yang realistis menjadi hal-hal yang patut dicermati dalam proses pemilihan.
Habiburokhman pun mengingatkan anggota senat dan pemilik suara agar menggunakan hak pilih dengan mempertimbangkan masa depan Unila.
“Mari gunakan hak suara Bapak Ibu dengan bijak demi masa depan kampus tercinta. Salam hormat, Habiburokhman,” tutupnya.
Pada akhirnya, dukungan dari alumni menjadi salah satu suara dalam dinamika pemilihan rektor. Keputusan resmi tetap berada pada mekanisme pemilihan yang berlaku di Unila, dengan mempertimbangkan kapasitas, visi, rekam jejak, serta rencana kerja masing-masing kandidat.***







