Daftar Isi
MUDA BELIA — Pendidikan di era sekarang nggak cukup hanya soal nilai bagus, ijazah, atau cepat mendapatkan pekerjaan. Bagi Asliman Puja Kesuma, S.Pd., Kepala SMK IB Khalifah Bangsa, pendidikan punya misi yang jauh lebih besar, yakni membentuk manusia yang punya kompetensi, karakter, iman, kemandirian, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Menurut Asliman, sekolah seharusnya menjadi tempat bagi peserta didik untuk tumbuh secara utuh. Artinya, siswa bukan hanya dibekali keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja, tetapi juga diajak menjadi pribadi yang punya integritas dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
“Kami ingin peserta didik tidak hanya memiliki kompetensi ketika menyelesaikan pendidikan di sini, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, kemandirian, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya,” ujar Asliman.
Ia menilai, ukuran keberhasilan pendidikan tidak semata-mata dilihat dari seberapa banyak lulusan yang bekerja. Lebih dari itu, sekolah harus mampu melahirkan generasi yang mampu mengambil keputusan dengan baik, bertanggung jawab, serta punya kepedulian terhadap kehidupan di sekitarnya.
“Bagi kami, keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika anak-anak mampu bekerja, tetapi ketika mereka mampu menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat,” katanya.
Setiap Kegiatan Harus Punya Nilai Pendidikan
Asliman mengatakan proses pendidikan tidak hanya terjadi ketika guru berdiri di depan kelas dan siswa membuka buku pelajaran.
Menurutnya, berbagai aktivitas di lingkungan sekolah juga bisa menjadi ruang belajar bagi siswa. Mulai dari kegiatan keagamaan, kepramukaan, pendampingan peserta didik hingga aktivitas bersama dapat menjadi sarana untuk membangun karakter.
“Kami berusaha menjadikan setiap kegiatan sebagai pengalaman belajar. Anak-anak tidak hanya belajar dari buku dan guru, tetapi juga belajar dari pengalaman, dari kebersamaan, dari tanggung jawab, dan dari bagaimana mereka menghadapi persoalan,” jelasnya.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena kehidupan setelah sekolah tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan teori yang dipelajari di dalam kelas.
Siswa perlu memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, mengambil tanggung jawab, serta beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah.
Teknologi Makin Canggih, Karakter Jangan Sampai Hilang
Perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat juga menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan.
Dunia kerja terus berkembang. Kompetensi yang dibutuhkan industri hari ini belum tentu sama dengan kebutuhan beberapa tahun mendatang.
Karena itu, sekolah dituntut untuk terus beradaptasi agar peserta didik tidak tertinggal.
Namun, Asliman mengingatkan ada hal yang tidak boleh ikut berubah hanya karena perkembangan zaman, yakni nilai, integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
“Teknologi akan terus berkembang dan kebutuhan dunia kerja akan terus berubah. Karena itu, kami ingin membekali anak-anak dengan kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Tetapi di atas semua itu, mereka harus memiliki nilai dan karakter sebagai pegangan,” tuturnya.
Menurutnya, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu bekal penting bagi generasi muda. Siswa harus terbiasa belajar hal baru, terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap memiliki prinsip dalam menjalani kehidupan.
Sekolah, Orang Tua dan Masyarakat Harus Satu Frekuensi
Asliman juga menilai pendidikan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah.
Pembentukan karakter anak membutuhkan dukungan banyak pihak. Sekolah, keluarga, masyarakat, dunia usaha hingga berbagai elemen lainnya harus bisa saling mendukung.
“Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri,” katanya.
Menurut Asliman, ketika sekolah dan orang tua memiliki komunikasi yang baik, proses pembentukan karakter anak akan menjadi lebih kuat.
Begitu pula dengan lingkungan masyarakat. Anak membutuhkan lingkungan yang memberikan contoh positif agar nilai-nilai yang dipelajari di sekolah tidak berhenti sebagai teori.
“Ketika sekolah, orang tua, masyarakat dan berbagai pihak dapat saling menguatkan, insyaallah kita akan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu memberikan warna positif bagi kehidupan,” ujarnya.
Setiap Anak Punya Potensi Berbeda
Hal lain yang menjadi perhatian Asliman adalah keberagaman potensi peserta didik.
Ia menilai setiap anak memiliki kemampuan, minat, karakter, dan cara berkembang yang berbeda. Karena itu, pendidikan tidak seharusnya hanya memaksa semua siswa mengikuti pola yang sama.
“Kami percaya setiap anak memiliki kelebihan dan jalan tumbuhnya masing-masing. Tugas kami adalah mendampingi, mengarahkan, dan memberikan ruang agar potensi itu berkembang,” katanya.
Bagi Asliman, sekolah harus menjadi ruang yang memungkinkan siswa menemukan kekuatan dirinya.
Ada siswa yang menonjol di bidang akademik, ada yang memiliki kemampuan teknis, ada yang kuat dalam kepemimpinan, seni, olahraga, organisasi, maupun bidang lainnya.
Semua potensi tersebut perlu mendapatkan ruang untuk berkembang.
Harapan akhirnya sederhana. Ketika siswa menyelesaikan pendidikan, mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa keterampilan, pengalaman, iman, dan karakter yang bisa menjadi bekal menghadapi kehidupan.
Pendidikan Bukan Sekadar Soal Ijazah
Bagi Asliman, keberhasilan pendidikan pada akhirnya tidak bisa hanya diukur dari seberapa cepat sekolah menghasilkan lulusan.
Yang jauh lebih penting adalah seberapa kuat nilai yang tertanam dalam diri siswa dan seberapa besar kontribusi yang mampu mereka berikan setelah meninggalkan bangku sekolah.
“Sekolah bukan hanya tempat untuk menjadi pintar. Sekolah adalah tempat untuk belajar menjadi manusia yang mampu, berkarakter, dan berarti bagi kehidupan,” pungkasnya.
Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar angka, nilai, atau ijazah. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan dunia kerja yang semakin cepat, generasi muda tetap membutuhkan fondasi karakter agar mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilan secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tentang bagaimana seorang anak menjadi lulusan. Lebih dari itu, sekolah adalah tentang bagaimana seorang anak tumbuh menjadi manusia yang mampu berdiri sendiri, memiliki prinsip, menghargai orang lain, dan memberi manfaat bagi lingkungan serta masyarakat.







