Daftar Isi
MUDA BELIA- Dalam rangkaian puisi-puisi ini, Muhammad Alfariezie yang merupakan penyair berbakat Indonesia asal Kota Bandar Lampung memperlihatkan kecenderungan sastra modern yang menempatkan puisi bukan sekadar media estetika, tetapi juga alat kritik sosial dan politik.
Dalam perspektif teori sastra modern, terutama pendekatan struktural dan sosiologis, penyair menggunakan simbol-simbol sehari-hari seperti “benalu”, “semut”, “rumput”, hingga “dunkin donuts” untuk membangun metafora kekuasaan yang korup, timpang, dan menjauh dari rakyat.
Bahasa yang Muhammad Alfariezie gunakan sengaja lugas, repetitif, dan terkadang menyerupai pidato atau khotbah agar efek kritik terasa langsung kepada pembaca. Alfa, sepertinya menggunakan teori-teori tema argumentatif, ekspalanasi hingga kata perintah.
Bentuk puisi bebas tanpa keterikatan rima memperlihatkan ciri puisi modern yang lebih menekankan gagasan, tekanan emosi, dan keberanian menyampaikan keresahan sosial dibanding keindahan bunyi semata.
Wajib Mengingat Sebab Nilai Bejat
Kita Tak Terhingga
Harus! Setiap hari, kita
Mesti seperti kata Imam
Sholat Jumat
Bertobat! bahkan setiap
saat, karena mengingat
betapa laknat kita
berkhianat layaknya daun
dan debu
Terhadap mereka yang taat,
Kepada mereka yang paling
terhormat dan kepada mereka
yang setia menunggu kita
memberi yang terhebat
Terlebih pejabat atas
amanah kitab rakyat
Wajib! Ketika beberapa
menit, sebab ilmu traktat
hingga filsafat matematika
menghasilkan nilai tak
terhingga untuk lupa, lalai
dan bejat-bejatnya kita
Dan mungkin enggak cuma
malaikat yang mencatat
tapi serdadu semut, kumbang
dan kembang maupun rumput
-rumput sekitar akan
memberi kabar hingga kita
terpental dari jalur yang benar,
nanti– nun jauh di sana
Andai lepas dari ingatan
seperti yang terucap imam
Sholat Jumat
2026
Wali Kota Benalu
Karakternya benalu, wali kota kita.
Disuburkannya sulur-sulur itu
di ranting-batang mangga hingga
jambu bahkan mengkudu
Dihisapnya manis asam segar
sampai kesal dan nyaris hilang akal
pemilik serta orang-orang di luar
pagar akibat parasit obligat itu terus
menyebar jeli biji getah yang lengket
Karakternya benalu, tak peduli
mahalnya buah impor bagi bocah-bocah
kampung yang mengharap gizi
buah-buah perumahan
Dihisap terus hak senang warga dan
selalu ia sebar penghalang riang
tetangga yang rukun
Itu benalu, wali kota yang kita pilih
mengisap, merusak pesta anak-anak
kita di dahan berbuah mejikuhibiniu
2026
Bunda Astronomi Pesaing Sapardi
Bundanya wali kota pernah bilang
saat ia berkampanye di hadapan
puluhan bapak dan lebih banyak
ibu bahwa bulan kesepian ketika
bintang tak henti-henti berkelindan
Berhenti penjelasannya di situ, dan
semua tepuk tangan menganggapnya
pandai astronomi dan bersaing
dengan Sapardi
Sampai waktu tertentu ia menang
pemilu tanpa semua pernah tahu
bahwa matahari selalu setia
mendampingi bulan hingga ke pucuk
paling rahasia
2025
Undang-Undang Dunkin Donuts
Teruslah bergerak tanpa mengindahkan
undang-undang di dalam negeri hukum
yang rakyatnya 283 juta orang
Uang puluhan miliar tak berlaku apapun
di atas tanah yang bayi-bayinya busung lapar
dan rumah sakitnya berjejal pasien yang muskil
membeli dunkin donuts
Seperti di sini, walikotanya menyiakan
uang mungkin hingga 80 miliar dan
walikotanya di-support gubernur serta
dewan untuk menentang presiden
dan menteri rezim jenderal
Sementara mereka juga bebas naik turun
mewah di sekitar warga yang seumur-umur
enggak sanggup membeli pizza tapi langsung
masuk penjara ketika mencuri kotak amal saja
2025
Tangis Sekolah Hantu Wali Kota
Orang tua puluhan murid sekolah hantu
wali kota, mungkin menangis jika paham
anaknya terancam mendung putih
masa depan
Jangankan sertifikat, izin pun sekolah
itu belum dapat tapi pemerintah sudah
menjatah alokasi dana
Bahaya! Kepala sekolah bisa babi hutan
terembat macan dan pejabat kelas bawah
layaknya buaya terjerat keluarga korban
Wali murid siswa SMA liar wali kota
mohon menimbang berat gudang masalah
Bisa-bisa bukan hanya tidak berijazah
tapi anak-tetangga Anda kambing hitam
makanan calon narapidana
2025
Puisi-puisi Penyair Generasi baru ini juga dapat dibaca melalui teori kritik sosial dalam sastra modern yang memandang karya sastra sebagai cermin kondisi masyarakat. Bahkan dia menyebut gaya puisinya ini sebagai Gaya Kritik Lampung.
Tokoh “wali kota” muncul sebagai simbol kekuasaan yang parasitik, sementara rakyat digambarkan sebagai korban ketidakadilan birokrasi dan moral.
Penyair memanfaatkan ironi dan satire untuk membongkar kemunafikan pejabat, termasuk melalui penggabungan istilah religius, politik, hingga budaya populer.
Teknik tersebut menunjukkan karakter postmodern dalam sastra kontemporer Indonesia, yakni pencampuran bahasa formal dan percakapan sehari-hari untuk menciptakan kesan dekat, tajam, dan provokatif.
Dengan demikian, puisi-puisi ini bukan hanya ekspresi personal, melainkan bentuk perlawanan moral terhadap penyimpangan sosial dan kekuasaan.***












