Daftar Isi
- You might also like
- Green Policing di Batu Perahu Krakatoa, Polres Lampung Selatan Ajak Gen Z Ikut Jaga Bumi!
- Unila Go Beyond Achievement! Dr. Budiono Dorong Kampus Mendunia dan Berdampak Nyata
- Habiburokhman Dukung Dr. Budiono Jadi Rektor Unila, Soroti Etos Kerja dan Jejaring Global
- AI Bisa Bikin Tugas Lebih Praktis, Tapi Jangan Sampai Salah Langkah!
- Jangan Asal Copy-Paste, Ini Pentingnya Responsible AI
- IBN Dorong Mahasiswa Lebih Siap Hadapi Era Digital
- AI Bukan Pengganti Otak, Mahasiswa Tetap Harus Kritis!
MUDA BELIA – Teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini makin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Mulai dari mencari referensi, merangkum materi kuliah, mengolah data, sampai membantu menyusun skripsi, semuanya bisa dilakukan lebih praktis dengan bantuan AI.
Namun, ada hal penting yang nggak boleh diabaikan: menggunakan AI juga perlu etika, ketelitian, dan kemampuan berpikir kritis. Jangan sampai teknologi yang seharusnya membantu belajar justru membuat mahasiswa asal menyalin jawaban tanpa memahami isinya.
Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam workshop yang digelar Institut Bakti Nusantara (IBN) Pringsewu, Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan Satria Abadi, M.T.I., Ph.D., dosen IBN sekaligus anggota tim peneliti Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia.
Workshop tersebut diikuti dosen serta mahasiswa semester 5 dan 7 IBN. Wakil Rektor I Institut Bakti Nusantara, Didi Susianto, M.Kom., secara resmi membuka kegiatan tersebut.
AI Bisa Bikin Tugas Lebih Praktis, Tapi Jangan Sampai Salah Langkah!
Dalam pemaparannya, Satria Abadi menjelaskan bahwa perkembangan Generative AI membuka banyak peluang baru bagi dunia pendidikan tinggi.
Teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk mencari informasi, menganalisis data, mengembangkan perangkat lunak, menyusun bahan pembelajaran, hingga membantu proses penelitian ilmiah.
Buat mahasiswa, kehadiran AI tentu bisa menjadi solusi untuk mengeksplorasi ide dan memahami materi yang kompleks. Namun, bukan berarti semua jawaban yang dihasilkan AI bisa langsung dipercaya begitu saja.
Ada sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, mulai dari plagiarisme, kebocoran data, pelanggaran privasi, bias algoritma, informasi yang tidak akurat, hingga ketergantungan berlebihan terhadap teknologi.
“Artificial Intelligence harus digunakan sebagai teknologi pendukung kecerdasan manusia, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir,” kata Satria Abadi.
Pesannya jelas: AI boleh membantu, tetapi kemampuan berpikir sendiri tetap menjadi hal utama.
Mahasiswa juga perlu mengecek ulang informasi yang dihasilkan AI, memastikan referensi benar-benar tersedia, serta menjaga orisinalitas karya ilmiah. Jangan sampai tugas terlihat meyakinkan, tetapi ternyata berisi data keliru atau sumber referensi yang tidak valid.
Jangan Asal Copy-Paste, Ini Pentingnya Responsible AI
Satria turut menyoroti pentingnya Responsible AI, yakni penggunaan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.
Prinsip ini mencakup transparansi, akuntabilitas, keamanan, keadilan, serta penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual.
Dalam dunia kampus, pemahaman tersebut penting karena AI semakin sering digunakan untuk membantu menyusun makalah, laporan praktikum, tugas akhir, skripsi, hingga publikasi ilmiah.
Mahasiswa perlu memahami aturan penggunaan AI yang berlaku di kampus masing-masing. Bantuan teknologi juga tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan manipulasi data, membuat referensi palsu, atau mengklaim hasil kerja AI sebagai hasil penelitian pribadi tanpa mengikuti ketentuan akademik.
Intinya, AI bisa menjadi partner belajar yang membantu proses eksplorasi ide. Namun, hasil akhirnya tetap harus diperiksa, dipahami, dan dipertanggungjawabkan oleh penggunanya.
IBN Dorong Mahasiswa Lebih Siap Hadapi Era Digital
Wakil Rektor I IBN, Didi Susianto, M.Kom., mengatakan kehadiran narasumber dengan pengalaman penelitian internasional diharapkan mampu memperluas wawasan dosen dan mahasiswa mengenai perkembangan AI.
Menurutnya, teknologi kecerdasan buatan telah membawa perubahan besar dalam proses pembelajaran, penelitian, pengolahan data, hingga pengambilan keputusan.
Karena itu, sivitas akademika perlu terus beradaptasi agar tidak tertinggal dari perkembangan teknologi. Namun, kemampuan menggunakan AI juga harus dibarengi dengan pemahaman etika dan integritas akademik.
“Perkembangan Artificial Intelligence memberikan peluang besar bagi dunia pendidikan tinggi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan inovasi,” ungkap Didi.
Ia berharap mahasiswa IBN tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami berharap mahasiswa Institut Bakti Nusantara tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi juga mampu mengembangkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
AI Bukan Pengganti Otak, Mahasiswa Tetap Harus Kritis!
Workshop tersebut dimoderatori Wakil Rektor II IBN, Dr. Miswan Gumanti, MBA., MM. Ia menilai perkembangan AI merupakan fenomena global yang perlu dipahami secara menyeluruh oleh dosen dan mahasiswa.
Menurut Miswan, AI bukan sekadar alat untuk mempercepat pekerjaan. Jika dimanfaatkan dengan benar, teknologi ini juga bisa membantu meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kualitas pengambilan keputusan.
“Mahasiswa harus memahami bahwa kecerdasan buatan merupakan alat bantu, bukan untuk menggantikan proses berpikir kritis,” jelasnya.
Melalui workshop ini, IBN mendorong mahasiswa dan dosen agar semakin siap menghadapi era digital. Bukan hanya jago menggunakan AI, tetapi juga mampu memilah informasi, memeriksa kebenaran data, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
Bagi generasi muda, kemampuan menggunakan AI secara cerdas bisa menjadi nilai tambah di dunia pendidikan maupun dunia kerja. Namun, kreativitas, kejujuran, dan pemikiran kritis tetap menjadi bekal yang tidak boleh ditinggalkan.***







